Jadwal Piala Eropa 2016

Cerita Seks Dosen dan Mahasiswi Hot

Cerita Dewasa Dosen dan Mahasiswi Hot
Ini merupakan sebuah cerita seks dosen dan mahasiswi yang hot! Kisah seorang dosen yang ngentot dengan mahasiswinya sendiri. Bagaimana kisahnya, simak cerita lengkapnya berikut ini!

Cerita ini bemula dari ulah dosenku yang kurang ajar. Hingga akhirnya aku menerima semua nasib sial ini. Berikut secara lengkap aku ceritakan bagaimana aib itu bisa terjadi.
Dengan langkah ragu-ragu aku mendekati ruang dosen di mana Pak Hr berada.
“Winda…”, sebuah suara memanggil.
“Hei Ratna!”.
“Ngapain kau cari-cari dosen killer itu?”, Ratna itu bertanya heran.
“Tau nih, aku mau minta ujian susulan, sudah dua kali aku minta diundur terus, kenapa ya?”.
“Idih jahat banget!”.
“Makanya, aku takut nanti di raport merah, mata kuliah dia kan penting!, tauk nih, bentar ya aku masuk dulu!”.
“He-eh deh, sampai nanti!” Ratna berlalu.
Dengan memberanikan diri aku mengetuk pintu.
“Masuk…!”, Sebuah suara yang amat ditakutinya menyilakannya masuk.
“Selamat siang pak!”.
“Selamat siang, kamu siapa?”, tanyanya tanpa meninggalkan pekerjaan yang sedang dikerjakannya.
“Saya Winda…!”.
“Aku..? Oh, yang mau minta ujian lagi itu ya?”.
“Iya benar pak.”
“Saya tidak ada waktu, nanti hari Mminggu saja kamu datang ke rumah saya, ini kartu nama saya”, Katanya acuh tak acuh sambil menyerahkan kartu namanya.
“Ada lagi?” tanya dosen itu.
“Tidak pak, selamat siang!”
“Selamat siang!”.
Dengan lemas aku beranjak keluar dari ruangan itu. Kesal sekali rasanya, sudah belajar sampai larut malam, sampai di sini harus kembali lagi hari Minggu, huh!
Mungkin hanya akulah yang hari Minggu masih berjalan sambil membawa tas hendak kuliah. Hari ini aku harus memenuhi ujian susulan di rumah Pak Hr, dosen berengsek itu.
Rumah Pak Hr terletak di sebuah perumahan elite, di atas sebuah bukit, agak jauh dari rumah-rumah lainnya. Belum sempat memijit Bel pintu sudah terbuka, Seraut wajah yang sudah mulai tua tetapi tetap segar muncul.
“Ehh…! Winda, ayo masuk!”, sapa orang itu yang tak lain adalah pak Hr sendiri.
“Permisi pak! Ibu mana?”, tanyaku berbasa-basi.
“Ibu sedang pergi dengan anak-anak ke rumah neneknya!”, sahut pak Hr ramah.
“Sebentar ya…”, katanya lagi sambil masuk ke dalam ruangan.
Tumben tidak sepeti biasanya ketika mengajar di kelas, dosen ini terkenal paling killer.
Rumah Pak Hr tertata rapi. Dinding ruang tamunya bercat putih. Di sudut ruangan terdapat seperangkat lemari kaca temapat tersimpan berbagai barang hiasan porselin. Di tengahnya ada hamparan permadani berbulu, dan kursi sofa kelas satu.
“Gimana sudah siap?”, tanya pak Hr mengejutkan aku dari lamunannya.
“Eh sudah pak!”
“Sebenarnya…, sebenarnya Winda tidak perlu mengikuti ulang susulan kalau…, kalau…!”
“Kalau apa pak?”, aku bertanya tak mengerti. Belum habis bicaranya, Pak Hr sudah menuburuk tubuhku.
“Pak…, apa-apaan ini?”, tanyaku kaget sambil meronta mencoba melepaskan diri.
“Jangan berpura-pura Winda sayang, aku membutuhkannya dan kau membutuhkan nilai bukan, kau akan kululuskan asalkan mau melayani aku!”, sahut lelaki itu sambil berusaha menciumi bibirku.
Serentak Bulu kudukku berdiri. Geli, jijik…, namun detah dari mana asalnya perasaan hasrat menggebu-gebu juga kembali menyerangku. Ingin rasanya membiarkan lelaki tua ini berlaku semaunya atas diriku. Harus kuakui memang, walaupun dia lebih pantas jadi bapakku, namun sebenarnya lelaki tua ini sering membuatku berdebar-debar juga kalau sedang mengajar. Tapi aku tetap berusaha meronta-ronta, untuk menaikkan harga diriku di mata Pak Hr.
“Lepaskan…, Pak jangan hhmmpppff…!”, kata-kataku tidak terselesaikan karena terburu bibirku tersumbat mulut pak Hr.
Aku meronta dan berhasil melepaskan diri. Aku bangkit dan berlari menghindar. Namun entah mengapa aku justru berlari masuk ke sebuah kamar tidur. Kurapatkan tubuhku di sudut ruangan sambil mengatur kembali nafasku yang terengah-engah, entah mengapa birahiku sedemikian cepat naik. Seluruh wajahku terasa panas, kedua kakikupun terasa gemetar.
Pak Hr seperti diberi kesempatan emas. Ia berjalan memasuki kamar dan mengunci pintunya. Lalu dengan perlahan ia mendekatiku. Tubuhku bergetar hebat manakala lelaki tua itu mengulurkan tangannya untuk merengkuh diriku. Dengan sekali tarik aku jatuh ke pelukan Pak Hr, bibirku segera tersumbat bibir laki-laki tua itu. Terasa lidahnya yang kasap bermain menyapu telak di dalam mulutku. Perasaanku bercampur aduk jadi satu, benci, jijik bercampur dengan rasa ingin dicumbui yang semakin kuat hingga akhirnya akupun merasa sudah kepalang basah, hati kecilku juga menginginkannya. Terbayang olehku saat-saat aku dicumbui seperti itu oleh Aldy, entah sedang di mana dia sekarang. aku tidak menolak lagi. bahkan kini malah membalas dengan hangat.
Merasa mendapat angin kini tangan Pak Hr bahkan makin berani menelusup di balik blouse yang aku pakai, tidak berhenti di situ, terus menelup ke balik beha yang aku pakai.
Jantungku berdegup kencang ketika tangan laki-laki itu meremas-remas gundukan daging kenyal yang ada di dadaku dengan gemas. Terasa benar, telapak tangannya yang kasap di permukaan buah dadaku, ditingkahi dengan jari-jarinya yang nakal mepermainkan puting susuku. Gemas sekali nampaknya dia. Tangannya makin lama makin kasar bergerak di dadaku ke kanan dan ke kiri.
Setelah puas, dengan tidak sabaran tangannya mulai melucuti pakaian yang aku pakai satu demi satu hingga berceceran di lantai. Hingga akhirnya aku hanya memakai secarik G-string saja. Bergegas pula Pak Hr melucuti kaos oblong dan sarungnya. Di baliknya menyembul batang penis laki-laki itu yang telah menegang, sebesar lengan Bayi.
Tak terasa aku menjerit ngeri, aku belum pernah melihat alat vital lelaki sebesar itu. Aku sedikit ngeri. Bisa jebol milikku dimasuki benda itu. Namun aku tak dapat menyembunyikan kekagumanku. Seolah ada pesona tersendiri hingga pandangan mataku terus tertuju ke benda itu. Pak Hr berjalan mendekatiku, tangannya meraih kunciran rambutku dan menariknya hingga ikatannya lepas dan rambutku bebas tergerai sampai ke punggung.
“Kau Cantik sekali Winda…”, gumam pak Hr mengagumi kecantikanku.
Aku hanya tersenyum tersipu-sipu mendengar pujian itu.
Dengan lembut Pak Hr mendorong tubuhku sampai terduduk di pinggir kasur. Lalu ia menarik G-string, kain terakhir yang menutupi tubuhku dan dibuangnya ke lantai. Kini kami berdua telah telanjang bulat. Tanpa melepaskan kedua belah kakiku, bahkan dengan gemas ia mementangkan kedua belah pahaku lebar-lebar. Matanya benar-benar nanar memandang daerah di sekitar selangkanganku. Nafas laki-laki itu demikian memburu.
Tak lama kemudian Pak membenamkan kepalanya di situ. Mulut dan lidahnya menjilat-jilat penuh nafsu di sekitar kemaluanku yang tertutup rambut lebat itu. Aku memejamkan mata, oohh, indahnya, aku sungguh menikmatinya, sampai-sampai tubuhku dibuat menggelinjang-gelinjang kegelian.
“Pak…!”, rintihku memelas.
“Pak…, aku tak tahan lagi…!”, aku memelas sambil menggigit bibir. Sungguh aku tak tahan lagi mengalamai siksaan birahi yang dilancarkan Pak Hr. Namun rupanya lelaki tua itu tidak peduli, bahkan senang melihat aku dalam keadaan demikian. Ini terlihat dari gerakan tangannya yang kini bahkan terjulur ke atas meremas-remas payudaraku, tetapi tidak menyudahi perbuatannya. Padahal aku sudah kewalahan dan telah sangat basah kuyup.
“Paakk…, aakkhh…!”, aku mengerang keras, kakinya menjepit kepala Pak Hr melampiaskan derita birahiku, kujambak rambut Pak Hr keras-keras. Kini aku tak peduli lagi bahwa lelaki itu adalah dosen yang aku hormati. Sungguh lihai laki-laki ini membangkitkan gairahku. aku yakin dengan nafsunya yang sebesar itu dia tentu sangat berpengalaman dalam hal ini, bahkan sangat mungkin sudah puluhan atau ratusan mahasiswi yang sudah digaulinya. Tapi apa peduliku?
Tiba-tiba Pak Hr melepaskan diri, lalu ia berdiri di depanku yang masih terduduk di tepi ranjang dengan bagian bawah perutnya persis berada di depan wajahku. aku sudah tahu apa yang dia mau, namun tanpa sempat melakukannya sendiri, tangannya telah meraih kepalaku untuk dibawa mendekati kejantanannya yang aduh mak.., Sungguh besar itu.
Tanpa melawan sama sekali aku membuka mulut selebar-lebarnya, Lalu kukulum sekalian alat vital Pak Hr ke dalam mulutku hingga membuat lelaki itu melek merem keenakan. Benda itu hanya masuk bagian kepala dan sedikit batangnya saja ke dalam mulutku. Itupun sudah terasa penuh. Aku hampir sesak nafas dibuatnya. Aku pun bekerja keras, menghisap, mengulum serta mempermainkan batang itu keluar masuk ke dalam mulutku. Terasa benar kepala itu bergetar hebat setiap kali lidahku menyapu kepalanya.
Beberapa saat kemudian Pak Hr melepaskan diri, ia membaringkan aku di tempat tidur dan menyusul berbaring di sisiku, kaki kiriku diangkat disilangkan di pinggangnya. Lalu Ia berusaha memasuki tubuhku belakang. Ketika itu pula kepala penis Pak Hr yang besar itu menggesek clitoris di liang senggamaku hingga aku merintih kenikmatan. Ia terus berusaha menekankan miliknya ke dalam milikku yang memang sudah sangat basah. Pelahan-lahan benda itu meluncur masuk ke dalam milikku.
Dan ketika dengan kasar dia tiba-tiba menekankan miliknya seluruhnya amblas ke dalam diriku aku tak kuasa menahan diri untuk tidak memekik. Perasaan luar biasa bercampur sedikit pedih menguasai diriku, hingga badanku mengejang beberapa detik.
Pak Hr cukup mengerti keadaan diriku, ketika dia selesai masuk seluruhnya dia memberi kesempatan padaku untuk menguasai diri beberapa saat. Sebelum kemudian dia mulai menggoyangkan pinggulnya pelan-pelan kemudian makin lama makin cepat.
Aku sungguh tak kuasa untuk tidak merintih setiap Pak Hr menggerakkan tubuhnya, gesekan demi gesekan di dinding dalam liang senggamaku sungguh membuatku lupa ingatan. Pak Hr menyetubuhi aku dengan cara itu. Sementara bibirnya tak hentinya melumat bibir, tengkuk dan leherku, tangannya selalu meremas-remas payudaraku. Aku dapat merasakan puting susuku mulai mengeras, runcing dan kaku.
Aku bisa melihat bagaimana batang penis lelaki itu keluar masuk ke dalam liang kemaluanku. Aku selalu menahan nafas ketika benda itu menusuk ke dalam. Milikku hampir tidak dapat menampung ukuran Pak Hr yang super itu, dan ini makin membuat Pak Hr tergila-gila.
Tidak sampai di situ, beberapa menit kemudian Pak Hr membalik tubuhku hingga menungging di hadapannya. Ia ingin pakai doggy style rupanya. Tangan lelaki itu kini lebih leluasa meremas-remas kedua belah payudara aku yang kini menggantung berat ke bawah. Sebagai seorang wanita aku memiliki daya tahan alami dalam bersetubuh. Tapi bahkan kini aku kewalahan menghadapi Pak Hr. Laki-laki itu benar-benar luar biasa tenaganya. Sudah hampir setengah jam ia bertahan. Aku yang kini duduk mengangkangi tubuhnya hampir kehabisan nafas.
Kupacu terus goyangan pinggulku, karena aku merasa sebentar lagi aku akan memperolehnya. Terus…, terus…, aku tak peduli lagi dengan gerakanku yang brutal ataupun suaraku yang kadang-kadang memekik menahan rasa luar biasa itu. Dan ketika klimaks itu sampai, aku tak peduli lagi…, aku memekik keras sambil menjambak rambutnya. Dunia serasa berputar. Sekujur tubuhku mengejang. Sungguh hebat rasa yang kurasakan kali ini. Sungguh ironi memang, aku mendapatkan kenikmatan seperti ini bukan dengan orang yang aku sukai. Tapi masa bodohlah.
Berkali-kali kuusap keringat yang membasahi dahiku. Pak Hr kemudian kembali mengambil inisiatif. kini gantian Pak Hr yang menindihi tubuhku. Ia memacu keras untuk mencapai klimaks. Desah nafasnya mendengus-dengus seperti kuda liar, sementara goyangan pinggulnya pun semakin cepat dan kasar. Peluhnya sudah penuh membasahi sekujur tubuhnya dan tubuhku. Sementara kami terus berpacu. Sungguh hebat laki-laki ini. Walaupun sudah berumur tapi masih bertahan segitu lama. Bahkan mengalahkan semua cowok-cowok yang pernah tidur denganku, walaupun mereka rata-rata sebaya denganku.
Namun beberapa saat kemudian, Pak Hr mulai menggeram sambil mengeretakkan giginya. Tubuh lelaki tua itu bergetar hebat di atas tubuhku. Penisnya menyemburkan cairan kental yang hangat ke dalam liang kemaluanku dengan derasnya.
Beberapa saat kemudian, perlahan-lahan kami memisahkan diri. Kami terbaring kelelahan di atas kasur itu. Nafasku yang tinggal satu-satu bercampur dengan bunyi nafasnya yang berat. Kami masing-masing terdiam mengumpulkan tenaga kami yang sudah tercerai berai.
Aku sendiri terpejam sambil mencoba merasakan kenikmatan yang baru saja aku alami di sekujur tubuhku ini. Terasa benar ada cairan kental yang hangat perlahan-lahan meluncur masuk ke dalam liang vaginaku. Hangat dan sedikit gatal menggelitik.
Bagian bawah tubuhku itu terasa benar-benar banjir, basah kuyub. Aku menggerakkan tanganku untuk menyeka bibir bawahku itu dan tanganku pun langsung dipenuhi dengan cairan kental berwarna putih susu yang berlepotan di sana.
“Bukan main Winda, ternyata kau pun seperti kuda liar!” kata Pak Hr penuh kepuasan. Aku yang berbaring menelungkup di atas kasur hanya tersenyum lemah. aku sungguh sangat kelelahan, kupejamkan mataku untuk sejenak beristirahat. Persetan dengan tubuhku yang masih telanjang bulat.
Pak Hr kemudian bangkit berdiri, ia menyulut sebatang rokok. Lalu lelaki tua itu mulai mengenakan kembali pakaiannya. Aku pun dengan malas bangkit dan mengumpulkan pakaiannya yang berserakan di lantai.
Sambil berpakaian ia bertanya, “Bagaimana dengan ujian saya pak?”.
“Minggu depan kamu dapat mengambil hasilnya”, sahut laki-laki itu pendek.
“Kenapa tidak besok pagi saja?”, protes aku tak puas.
“Aku masih ingin bertemu kamu, selama seminggu ini aku minta agar kau tidak tidur dengan lelaki lain kecuali aku!”, jawab Pak Hr.
Aku sedikit terkejut dengan jawabannya itu. Tapi akupun segera dapat menguasai keadaanku. Rupanya dia belum puas dengan pelayanan habis-habisanku barusan.
“Aku tidak bisa janji!”, sahutku seenaknya sambil bangkit berdiri dan keluar dari kamar mencari kamar mandi. Pak Hr hanya mampu terbengong mendengar jawabanku yang seenaknya itu.
Aku sedang berjalan santai meninggalkan rumah pak Hr, ini pertemuanku yang ketiga dengan laki-laki itu demi menebus nilai ujianku yang selalu jeblok jika ujian dengan dia. Mungkin malah sengaja dibuat jeblok biar dia bisa main denganku. Dasar…, namun harus kuakui, dia laki-laki hebat, daya tahannya sungguh luar biasa jika dibandingkan dengan usianya yang hapir mencapai usia pensiun itu. Bahkan dari pagi hingga sore hari ini dia masih sanggup menggarapku tiga kali, sekali di ruang tengah begitu aku datang, dan dua kali di kamar tidur. Aku sempat terlelap sesudahnya beberapa jam sebelum membersihkan diri dan pulang. Berutung kali ini, aku bisa memaksanya menandatangani berkas ujian susulanku.
“Masih ada mata kuliah Pengantar Berorganisasi dan Kepemimpinan”, katanya sambil membubuhkan nilai A di berkas ujianku.
“Selama bapak masih bisa memberiku nilai A”, kataku pendek.
“Segeralah mendaftar, kuliah akan dimulai minggu depan!”.
“Terima kasih pak!” kataku sambil tak lupa memberikan senyum semanis mungkin.
“Winda!” teriakan seseorang mengejutkan lamunanku. Aku menoleh ke arah sumber suara tadi yang aku perkirakan berasal dari dalam mobil yang berjalan perlahan menghampiriku. Seseorang membuka pintu mobil itu, wajah yang sangat aku benci muncul dari balik pintu Mitsubishi Galant keluaran tahun terakhir itu.
“Masuklah Winda…”.
“Tidak, terima kasih. Aku bisa jalan sendiri koq!”, Aku masih mencoba menolak dengan halus.
“Ayolah, masa kau tega menolak ajakanku, padahal dengan pak Hr saja kau mau!”.
Aku tertegun sesaat, Bagai disambar petir di siang bolong.
“Da…,Darimana kau tahu?”.
“Nah, jadi benar kan…, padahal aku tadi hanya menduga-duga!”
“Sialan!”, Aku mengumpat di dalam hati, harusnya tadi aku bersikap lebih tenang, aku memang selalu nervous kalau ketemu cowok satu ini, rasanya ingin buru-buru pergi dari hadapannya dan tidak ingin melihat mukanya yang memang seram itu.
Seperti tipikal orang Indonesia bagian daerah paling timur, cowok ini hitam tinggi besar dengan postur sedikit gemuk, janggut dan cambang yang tidak pernah dirapikan dengan rambut keritingnya yang dipelihara panjang ditambah dengan caranya memakai kemeja yang tidak pernah dikancingkan dengan benar sehingga memamerkan dadanya yang penuh bulu. Dengan asesoris kalung, gelang dan cincin emas, arloji rolex yang dihiasi berlian…, cukup menunjukkan bahwa dia ini orang yang memang punya duit. Namun, aku menjadi muak dengan penampilan seperti itu.
Dino memang salah satu jawara di kampus, anak buahnya banyak dan dengan kekuatan uang serta gaya jawara seperti itu membuat dia menjadi salah satu momok yang paling menakutkan di lingkungan kampus. Dia itu mahasiswa lama, dan mungkin bahkan tidak pernah lulus, namun tidak ada orang yang berani mengusik keberadaannya di kamus, bahkan dari kalangan akademik sekalipun.
“Gimana? Masih tidak mau masuk?”, tanya dia setengah mendesak.
Aku tertegun sesaat, belum mau masuk. Aku memang sangat tidak menyukai laki-laki ini, Tetapi kelihatannya aku tidak punya pilihan lain, bisa-bisa semua orang tahu apa yang kuperbuat dengan pak Hr, dan aku sungguh-sungguh ingin menjaga rahasia ini, terutama terhadap Erwin, tunanganku. Namun saat ini aku benar benar terdesak dan ingin segera membiarkan masalah ini berlalu dariku. Makanya tanpa pikir panjang aku mengiyakan saja ajakannya.
Dino tertawa penuh kemenangan, ia lalu berbicara dengan orang yang berada di sebelahnya supaya berpindah ke jok belakang. Aku membanting pantatku ke kursi mobil depan, dan pemuda itu langsung menancap gas. Sambil nyengir kuda. Kesenangan.
“Ke mana kita?”, tanyaku hambar.
“Lho? Mestinya aku yang harus tanya, kau mau ke mana?”, tanya Dino pura-pura heran.
“Sudahlah Dino, tak usah berpura-pura lagi, kau mau apa?”, Suaraku sudah sedemikian pasrahnya. Aku sudah tidak mau berpikir panjang lagi untuk meminta dia menutup-nutupi perbuatanku. Orang yang duduk di belakangku tertawa.
“Rupanya dia cukup mengerti apa kemauanmu Dino!”, Dia berkomentar.
“Ah, diam kau Maki!” Rupanya orang itu namanya Maki, orang dengan penampilan hampir mirip dengan Dino kecuali rambutnya yang dipotong crew-cut.
“Bagaimana kalau ke rumahku saja? Aku sangat merindukanmu Winda!”, pancing Dino.
“Sesukamulah…!”, Aku tahu benar memang itu yang diinginkannya.
Dino tertawa penuh kemenangan.
Ia melarikan mobilnya makin kencang ke arah sebuah kompleks perumahan. Lalu mobil yang ditumpangi mereka memasuki pekarangan sebuah rumah yang cukup besar. Di pekarangan itu sudah ada 2 buah mobil lain, satu Mitsubishi Pajero dan satu lagi Toyota Great Corolla namun keduanya kelihatan diparkir sekenanya tak beraturan.
Interior depan rumah itu sederhana saja. Cuma satu stel sofa, sebuah rak perabotan pecah belah. Tak lebih. Dindingnya polos. Demikian juga tempok ruang tengah. Terasa betapa luas dan kosongnya ruangan tengah itu, meski sebuah bar dengan rak minuman beraneka ragam terdapat di sudut ruangan, menghadap ke taman samping. Sebuah stereo set terpasang di ujung bar. Tampaknya baru saja dimatikan dengan tergesa-gesa. Pitanya sebagian tergantung keluar.
Dari pintu samping kemudian muncul empat orang pemuda dan seorang gadis, yang jelas-jelas masih menggunakan seragam SMU. Mereka semua mengeluarkan suara setengah berbisik. Keempat orang laki-laki itu, tiga orang sepertinya sesuku dengan Dino atau sebangsanya, sedangkan yang satu lagi seperti bule dengan rambutnya yang gondrong. Sementara si gadis berperawakan tinggi langsing, berkulit putih dan rambutnya yang hitam lurus dan panjang tergerai sampai ke pinggang, ia memakai bandana lebar di kepalanya dengan poni tebal menutupi dahinya. Wajahnya yang oval dan bermata sipit menandakan bahwa ia keturunan Cina atau sebangsanya. Harus kuakui dia memang cantik, seperti bintang film drama Mandarin. Berbeda dengan penampilan ketiga laki-laki itu, gadis ini kelihatannya bukan merupakan gerombolan mereka, dilihat dari tampangnya yang masih lugu. Ia masih mengenakan seragam sebuah sekolah Katolik yang langsung bisa aku kenali karena memang khas. Namun entah mengapa dia bisa bergaul dengan orang-orang ini.
Dino bertepuk tangan. Kemudian memperkenalkan diriku dengan mereka. Yos, dan Bram seperti tipikal orang sebangsa Dino, Tito berbadan tambun dan yang bule namanya Marchell, sementara gadis SMU itu bernama Shelly. Mereka semua yang laki-laki memandang diriku dengan mata “lapar” membuat aku tanpa sadar menyilangkan tangan di depan dadaku, seolah-olah mereka bisa melihat tubuhku di balik pakaian yang aku kenakan ini.
Tampak tak sabaran Dino menarik diriku ke loteng. Langsung menuju sebuah kamar yang ada di ujung. Kamar itu tidak berdaun pintu, sebenarnya lebih tepat disebut ruang penyangga antara teras dengan kamar-kamar yang lain Sebab di salah satu ujungnya merupakan pintu tembusan ke ruang lain.
Di sana ada sebuah kasur yang terhampar begitu saja di lantai kamar. Dengan sprei yang sudah acak-acakan. Di sudut terdapat dua buah kursi sofa besar dan sebuah meja kaca yang mungil. Di bawahnya berserakan majalah-majalah yang cover depannya saja bisa membuat orang merinding. Bergambar perempuan-perempuan telanjang.
Aku sadar bahkan sangat sadar, apa yang dimaui Dino di kamar ini. Aku beranjak ke jendela. Menutup gordynnya hingga ruangan itu kelihatan sedikit gelap. Namun tak lama, karena kemudian Dino menyalakan lampu. Aku berputar membelakangi Dino, dan mulai melucuti pakaian yang aku kenakan. Dari blouse, kemudian rok bawahanku kubiarkan meluncur bebas ke mata kakiku. Kemudian aku memutar balik badanku berbalik menghadap Dino.
Betapa terkejutnya aku ketika aku berbalik, ternyata di hadapanku kini tidak hanya ada Dino, namun Maki juga sedang berdiri di situ sambil cengengesan. Dengan gerakan reflek, aku menyambar blouseku untuk menutupi tubuhku yang setengah telanjang. Melihat keterkejutanku, kedua laki-laki itu malah tertawa terbahak-bahak.
“Ayolah Winda, Toh engkau juga sudah sering memperlihatkan tubuh telanjangmu kepada beberapa laki-laki lain?”.
“Kurang ajar kau Dino!” Aku mengumpat sekenanya.
Wajah laki-laki itu berubah seketika, dari tertawa terbahak-bahak menjadi serius, sangat serius. Dengan tatapan yang sangat tajam dia berujar, “Apakah engkau punya pilihan lain? Ayolah, lakukan saja dan sesudah selesai kita boleh melupakan kejadian ini.”
Aku tertegun, melayani dua orang sekaligus belum pernah aku lakukan sebelumnya. Apalagi orang-orang yang bertampang seram seperti ini. Tapi seperti yang dia bilang, aku tak punya pilihan lain. Seribu satu pertimbangan berkecamuk di kepalaku hingga membuat aku pusing. Tubuhku tanpa sadar sampai gemetaran, terasa sekali lututku lemas sepertinya aku sudah kehabisan tenaga karena digilir mereka berdua, padahal mereka sama sekali belum memulainya.
Akhirnya, dengan sangat berat aku menggerakkan kedua tangan ke arah punggungku di mana aku bisa meraih kaitan BH yang aku pakai. Baju yang tadi aku pakai untuk menutupi bagian tubuhku dengan sendirinya terjatuh ke lantai. Dengan sekali sentakan halus BH-ku telah terlepas dan meluncur bebas dan sebelum terjatuh ke lantai kulemparkan benda itu ke arah Dino yang kemudian ditangkapnya dengan tangkas. Ia mencium bagian dalam mangkuk bra-ku dengan penuh perasaan.
“Harum!”, katanya.
Lalu ia seperti mencari-cari sesuatu dari benda itu, dan ketika ditemukannya ia berhenti.
“36B!”, katanya pendek.
Rupanya ia pingin tahu berapa ukuran dadaku ini.
“BH-nya saja sudah sedemikian harum, apalagi isinya!”, katanya seraya memberikan BH itu kepada Maki sehingga laki-laki itu juga ikut-ikutan menciumi benda itu. Namun demikian mata mereka tak pernah lepas menatap belahan payudaraku yang kini tidak tertutup apa-apa lagi.
Aku kini hanya berdiri menunggu, dan tanpa diminta Dino melangkah mendekatiku. Ia meraih kepalaku. Tangannya meraih kunciran rambut dan melepaskannya hingga rambutku kini tergerai bebas sampai ke punggung.
“Nah, dengan begini kau kelihatan lebih cantik!”
Ia terus berjalan memutari tubuhku dan memelukku dari belakang. Ia sibakkan rambutku dan memindahkannya ke depan lewat pundak sebelah kiriku, sehingga bagian punggung sampai ke tengkukku bebas tanpa penghalang. Lalu ia menjatuhkan ciumannya ke tengkuk belakangku. Lidahnya menjelajah di sekitar leher, tengkuk kemudian naik ke kuping dan menggelitik di sana. Kedua belah tangannya yang kekar dan berbulu yang tadi memeluk pinggangku kini mulai merayap naik dan mulai meremas-remas kedua belah payudaraku dengan gemas. Aku masih menanggapinya dengan dingin dengan tidak bereaksi sama sekali selain memejamkan mataku.
Dino rupanya tidak begitu suka aku bersikap pasif, dengan kasar ia menarik wajahku hingga bibirnya bisa melumat bibirku. Aku hanya berdiam diri saja tak memberikan reaksi. Sambil melumat, lidahnya mencari-cari dan berusaha masuk ke dalam mulutku, dan ketika berhasil lidahnya bergerak bebas menjilati lidahku hingga secara tak sengaja lidahkupun meronta-ronta.
Sambil memejamkan mata aku mencoba untuk menikmati perasaan itu dengan utuh. Tak ada gunanya aku menolak, hal itu akan membuatku lebih menderita lagi. Dengan kuluman lidah seperti itu, ditingkahi dengan remasan-remasan telapak tangannya di payudaraku sambil sekali-sekali ibu jari dan telunjuknya memilin-milin puting susuku, pertahananku akhirnya bobol juga. Memang, aku sudah sangat terbiasa dan sangat terbuai dengan permaian seperti ini hingga dengan mudahnya Dino mulai membangkitkan nafsuku. Bahkan kini aku mulai memberanikan menggerakkan tangan meremas kepala Dino yang berada di belakangku. Sementara dengan ekor mataku aku melihat Maki beranjak berjalan menuju sofa dan duduk di sana, sambil pandangan matanya tidak pernah lepas dari kami berdua.
Mungkin karena merasa sudah menguasai diriku, ciuman Dino terus merambat turun ke leherku, menghisapnya hingga aku menggelinjang. Lalu merosot lagi menelusup di balik ketiak dan merayap ke depan sampai akhirnya hinggap di salah satu pucuk bukit di dadaku, Dengan satu remasan yang gemas hingga membuat puting susuku melejit Dino untuk mengulumnya. Pertama lidahnya tepat menyapu pentilnya, lalu bergerak memutari seluruh daerah puting susuku sebelum mulutnya mengenyot habis puting susuku itu. Ia menghisapnya dengan gemas sampai pipinya kempot.
Tubuhku secara tiba-tiba bagaikan disengat listrik, terasa geli yang luar biasa bercampur sedikit nyeri di bagian itu. Aku menggelinjang, melenguh apalagi ketika puting susuku digigit-gigit perlahan oleh Dino. Buah anggur yang ranum itu dipermainkan pula dengan lidah Dino yang kasap. Dipilin-pilinnya kesana kemari. Dikecupinya, dan disedotnya kuat-kuat sampai putingnya menempel pada telaknya. Aku merintih. Tanganku refleks meremas dan menarik kepalanya sehingga semakin membenam di kedua gunung kembarku yang putih dan padat. Aku sungguh tak tahu mengapa harus begitu pasrah kepada lelaki itu. Mengapa aku justeru tenggelam dalam permaianan itu? Semula aku hanya merasa terpaksa demi menutupi rahasia atas perbuatanku. Tapi kemudian nyatanya, permainan yang Dino mainkan begitu dalam. Dan aneh sekali, Tanpa sadar aku mulai mengikuti permainan yang dipimpin dengan cemerlang oleh Dino.
“Winda…”, “Ya?”, “Kau suka aku perlakukan seperti ini?”. Aku hanya mengangguk. Dan memejamkan matanya. membiarkan payudaraku terus diremas-remas dan puting susunya dipilin perlahan. Aku menggeliat, merasakan nikmat yang luar biasa. Puting susu yang mungil itu hanya sebentar saja sudah berubah membengkak, keras dan mencuat semakin runcing.
“Hsss…, ah!”, Aku mendesah saat merasakan jari-jari tangan lelaki itu mulai menyusup ke balik celana dalamku dan merayap mencari liang yang ada di selangkanganku. Dan ketika menemukannya Jari-jari tangan itu mula-mula mengusap-usap permukaannya, terus mengusap-usap dan ketika sudah terasa basah jarinya mulai merayap masuk untuk kemudian menyentuh dinding-dinding dalam liang itu.
Dalam posisi masih berdiri berhadapan, sambil terus mencumbui payudaraku, Dino meneruskan aksinya di dalam liang gelap yang sudah basah itu. Makin lama makin dalam. Aku sendiri semakin menggelinjang tak karuan, kedua buah jari yang ada di dalam liang vaginaku itu bergerak-gerak dengan liar. Bahkan kadang-kadang mencoba merenggangkan liang vaginaku hingga menganga. Dan yang membuat aku tambah gila, ia menggerak-gerakkan jarinya keluar masuk ke dalam liang vaginaku seolah-olah sedang menyetubuhiku. Aku tak kuasa untuk menahan diri.
“Nggghh…!”, mulutku mulai meracau. Aku sungguh kewalahan dibuatnya hingga lututku terasa lemas hingga akhirnya akupun tak kuasa menahan tubuhku hingga merosot bersimpuh di lantai. Aku mencoba untuk mengatur nafasku yang terengah-engah. Aku sungguh tidak memperhatikan lagi yang kutahu kini tiba-tiba saja Dino telah berdiri telanjang bulat di hadapanku. Tubuhnya yang tinggi besar, hitam dan penuh bulu itu dengan angkuhnya berdiri mengangkang persis di depanku sehingga wajahku persis menghadap ke bagian selangkangannya. Disitu, aku melihat batang kejantanannya telah berdiri dengan tegaknya. Besar panjang kehitaman dengan bulu hitam yang lebat di daerah pangkalnya.
Dengan sekali rengkuh, ia meraih kepalaku untuk ditarik mendekati daerah di bawah perutnya itu. Aku tahu apa yang dimauinya, bahkan sangat tahu ini adalah perbuatan yang sangat disukai para lelaki. Di mana ketika aku melakukan oral seks terhadap kelaminnya.
Maka, dengan kepalang basah, kulakukan apa yang harus kulakukan. Benda itu telah masuk ke dalam mulutku dan menjadi permainan lidahku yang berputar mengitari ujung kepalanya yang bagaikan sebuah topi baja itu. Lalu berhenti ketika menemukan lubang yang berada persis di ujungnya. Lalu dengan segala kemampuanku aku mulai mengelomoh batang itu sambil kadang-kadang menghisapnya kuat-kuat sehingga pemiliknya bergetar hebat menahan rasa yang tak tertahankan.
Pada saat itu aku sempat melirik ke arah sofa di mana Maki berada, dan ternyata laki-laki ini sudah mulai terbawa nafsu menyaksikan perbuatan kami berdua. Buktinya, ia telah mengeluarkan batang kejantanannya dan mengocoknya naik turun sambil berkali-kali menelan ludah. Konsentrasiku buyar ketika Dino menarik kepalaku hingga menjauh dari selangkangannya. Ia lalu menarik tubuhku hingga telentang di atas kasur yang terhampar di situ. Lalu dengan cepat ia melucuti celana dalamku dan dibuangnya jauh-jauh seakan-akan ia takut aku akan memakainya kembali.
Untuk beberapa detik mata Dino nanar memandang bagian bawah tubuhku yang sudah tak tertutup apa-apa lagi. Si Makipun sampai berdiri mendekat ke arah kami berdua seakan ia tidak puas memandang kami dari kejauhan.
Namun beberapa detik kemudian, Dino mulai merenggangkan kedua belah pahaku lebar-lebar. Paha kiriku diangkatnya dan disangkutkan ke pundaknya. Lalu dengan tangannya yang sebelah lagi memegangi batang kejantanannya dan diusap-usapkan ke permukaan bibir vaginaku yang sudah sangat basah. Ada rasa geli menyerang di situ hingga aku menggelinjang dan memejamkan mata.
Sedetik kemudian, aku merasakan ada benda lonjong yang mulai menyeruak ke dalam liang vaginaku. Aku menahan nafas ketika terasa ada benda asing mulai menyeruak di situ. Seperti biasanya, aku tak kuasa untuk menahan jeritanku pada saat pertama kali ada kejantanan laki-laki menyeruak masuk ke dalam liang vaginaku.
Dengan perlahan namun pasti, kejantanan Dino meluncur masuk semakin dalam. Dan ketika sudah masuk setengahnya ia bahkan memasukkan sisanya dengan satu sentakan kasar hingga aku benar-benar berteriak karena terasa nyeri. Dan setelah itu, tanpa memberiku kesempatan untuk membiasakan diri dulu, Dino sudah bergoyang mencari kepuasannya sendiri.
Dino menggerak-gerakkan pinggulnya dengan kencang dan kasar menghunjam-hunjam ke dalam tubuhku hingga aku memekik keras setiap kali kejantanan Dino menyentak ke dalam. Pedih dan ngilu. Namun bercampur nikmat yang tak terkira. Ada sensasi aneh yang baru pertama kali kurasakan di mana di sela-sela rasa ngilu itu aku juga merasakan rasa nikmat yang tak terkira. Namun aku juga tidak bisa menguasai diriku lagi hingga aku sampai menangis menggebu-gebu, sakit keluhku setiap kali Dino menghunjam, tapi aku semakin mempererat pelukanku, Pedih, tapi aku juga tak bersedia Dino menyudahi perlakuannya terhadap diriku.
Aku semakin merintih. Air mataku meleleh keluar. kami terus bergulat dalam posisi demikian. Sampai tiba-tiba ada rasa nikmat yang luar biasa di sekujur tubuhku. Aku telah orgasme. Ya, orgasme bersama dengan orang yang aku benci. Tubuhku mengejang selama beberapa puluh detik. Sebelum melemas. Namun Dino rupanya belum selesai. Ia kini membalikkan tubuhku hingga kini aku bertumpu pada kedua telapak tangan dan kedua lututku. Ia ingin meneruskannya dengan doggy style. Aku hanya pasrah saja.
Kini ia menyetubuhiku dari belakang. Tangannya kini dengan leluasa berpindah-pindah dari pinggang, meremas pantat dan meremas payudaraku yang menggelantung berat ke bawah. Kini Dino bahkan lebih memperhebat serangannya. Ia bisa dengan leluasa menggoyangkan tubuhnya dengan cepat dan semakin kasar.
Pada saat itu tanpa terasa, Maki telah duduk mengangkang di depanku. Laki-laki ini juga telah telanjang bulat. Ia menyodorkan batang penisnya ke dalam mulutku, tangannya meraih kepalaku dan dengan setengah memaksa ia menjejalkan batang kejantanannya itu ke dalam mulutku.
Kini aku melayani dua orang sekaligus. Dino yang sedang menyetubuhiku dari belakang. Dan Maki yang sedang memaksaku melakukan oral seks terhadap dirinya. Dino kadang-kadang malah menyorongkan kepalanya ke depan untuk menikmati payudaraku. Aku mengerang pelan setiap kali ia menghisap puting susuku. Dengan dua orang yang mengeroyokku aku sungguh kewalahan hingga tidak bisa berbuat apa-apa. Malahan aku merasa sangat terangsang dengan posisi seperti ini.
Mereka menyetubuhiku dari dua arah, yang satu akan menyebabkan penis pada tubuh mereka yang berada di arah lainnya semakin menghunjam. Kadang-kadang aku hampir tersedak. Maki yang tampaknya mengerti kesulitanku mengalah dan hanya diam saja. Dino yang mengatur segala gerakan.
Perlahan-lahan kenikmatan yang tidak terlukiskan menjalar di sekujur tubuhku. Perasaan tidak berdaya saat bermain seks ternyata mengakibatkan diriku melambung di luar batas yang pernah kuperkirakan sebelumnya. Dan kembali tubuhku mengejang, deras dan tanpa henti. Aku mengalami orgasme yang datang dengan beruntun seperti tak berkesudahan.
Tidak lama kemudian Dino mengalami orgasme. Batang penisnya menyemprotkan air mani dengan deras ke dalam liang vaginaku. Benda itu menyentak-nyentak dengan hebat, seolah-olah ingin menjebol dinding vaginaku. Aku bisa merasakan air mani yang disemprotkannya banyak sekali, hingga sebagian meluap keluar meleleh di salah satu pahaku. Sesudah itu mereka berganti tempat. Maki mengambil alih perlakuan Dino. Masih dalam posisi doggy style. Batang kejantanannya dengan mulus meluncur masuk dalam sekali sampai menyentuh bibir rahimku. Ia bisa mudah melakukannya karena memang liang vaginaku sudah sangat licin dilumasi cairan yang keluar dari dalamnya dan sudah bercampur dengan air mani Dino yang sangat banyak. Permainan dilanjutkan. Aku kini tinggal melayani Maki seorang, karena Dino dengan nafas yang tersengal-sengal telah duduk telentang di atas sofa yang tadi diduduki Maki untuk mengumpulkan tenaga. Aku mengeluh pendek setiap kali Maki mendorong masuk miliknya. Maki terus memacu gerakkannya. Semakin lama semakin keras dan kasar hingga membuat aku merintih dan mengaduh tak berkesudahan.
Pada saat itu masuk Bram dan Tito bersamaan ke dalam ruangan. Tanpa basa-basi, mereka pun langsung melucuti pakaiannya hingga telanjang bulat. Lalu mereka duduk di lantai dan menonton adegan mesum yang sedang terjadi antara aku dan Maki. Bram nampak kelihatan tidak sabaran Tetapi aku sudah tidak peduli lagi. Maki terus memacu menggebu-gebu. Laki-laki itu sibuk memacu sambil meremasi payudaraku yang menggelantung berat ke bawah.
Sesaat kemudian tubuhku dibalikkan kembali telentang di atas kasur dan pada saat itu Bram dengan tangkas menyodorkan batang kejantanannya ke dalam mulutku. Aku sudah setengah sadar ketika Tito menggantikan Maki menggeluti tubuhku. Keadaanku sudah sedemikian acak-acakan. Rambut yang kusut masai. Tubuhku sudah bersimpah peluh. Tidak hanya keringat yang keluar dari tubuhku sendiri, tapi juga cucuran keringat dari para laki-laki yang bergantian menggauliku. Aku kini hanya telentang pasrah ditindihi tubuh gemuk Tito yang bergoyang-goyang di atasnya.
Laki-laki gemuk itu mengangkangkan kedua belah pahaku lebar-lebar sambil terus menghunjam-hunjamkan miliknya ke dalam milikku. Sementara Bram tak pernah memberiku kesempatan yang cukup untuk bernafas. Ia terus saja menjejal-jejalkan miliknya ke dalam mulutku. Aku sendiri sudah tidak bisa mengotrol diriku lagi. Guncangan demi guncangan yang diakibatkan oleh gerakan Titolah yang membuat Bram makin terangsang. Bukan lagi kuluman dan jilatan yang harusnya aku lakukan dengan lidah dan mulutku.
Dan ketika Tito melenguh panjang, ia mencapai orgasmenya dengan meremas kedua belah payudaraku kuat-kuat hingga aku berteriak mengaduh kesakitan. Lalu beberapa saat kemudian ia dengan nafasnya yang tersengal-sengal memisahkan diri dari diriku. Dan pada saat hampir bersamaan Bram juga mengerang keras. Batang kejantanannya yang masih berada di dalam mulutku bergerak liar dan menyemprotkan air maninya yang kental dan hangat. Aku meronta, ingin mengeluarkan banda itu dari dalam mulutku, namun tangan Bram yang kokoh tetap menahan kepalaku dan aku tak kuasa meronta lagi karena memang tenagaku sudah hampir habis. Cairan kental yang hangat itu akhirnya tertelan olehku. Banyak sekali. Bahkan sampai meluap keluar membasahi daerah sekitar bibirku sampai meleleh ke leher. Aku tak bisa berbuat apa-apa, selain dengan cepat mencoba menelan semua yang ada supaya tidak terlalu terasa di dalam mulutku. Aku memejamkan mata erat-erat, tubuhku mengejang melampiaskan rasa yang tidak karuan, geli, jijik, namun ada sensasi aneh yang luar biasa juga di dalam diriku. Sungguh sangat erotis merasakan siksa birahi semacam ini hingga akupun akhirnya orgasme panjang untuk ke sekian kalinya.
Dengan ekor mataku aku kembali melihat seseorang masuk ke ruangan yang ternyata si bule dan orang itu juga mulai membuka celananya. Aku menggigit bibir, dan mulai menangis terisak-isak. Aku hanya bisa memejamkan mata ketika Marchell mulai menindihi tubuhku. Pasrah.
Tidak lama kemudian setelah orang terakhir melaksanakan hasratnya pada diriku mereka keluar. aku merasa seluruh tubuhku luluh lantak. Setelah berhasil mengumpulkan cukup tenaga kembali, dengan terhuyung-huyung, aku bangkit dari tempat tidur, mengenakan pakaianku seadanya dan pergi mencari kamar mandi.
Aku berpapasan dengan Dino yang muncul dari dalam sebuah ruangan yang pintunya terbuka. Lelaki itu sedang sibuk mengancingkan retsluiting celananya. Masih sempat terlihat dari luar di dalam kamar itu, di atas tempat tidur tubuh Shelly yang telanjang sedang ditindihi oleh tubuh Maki yang bergerak-gerak cepat. Memacu naik turun. Gadis itu menggelinjang-gelinjang setiap kali Maki bergerak naik turun. Rupanya anak itu bernasib sama seperti diriku.
“Di mana aku bisa menemukan kamar mandi?” tanyaku pada Dino.
Tanpa menjawab, ia hanya menunjukkan tangannya ke sebuah pintu. Tanpa basa-basi lagi aku segera beranjak menuju pintu itu.
Di sana aku mandi berendam air panas sambil mengangis. Aku tidak tahu saya sudah terjerumus ke dalam apa kini. Yang membuat aku benci kepada diriku sendiri, walaupun aku merasa sedih, kesal, marah bercampur menjadi satu, namun demikian setiap kali teringat kejadian barusan, langsung saja selangkanganku basah lagi.
Aku berendam di sana sangat lama, mungkin lebih dari satu jam lamanya. Setelah terasa kepenatan tubuhku agak berkurang aku menyudahi mandiku. Dengan berjalan tertatih-tatih aku melangkah keluar kamar mandi dan berjalan mencari pintu keluar. Sudah hampir jam sebelas malam ketika aku keluar dari rumah itu.
Sampai di dalam rumah, Aku langsung ngeloyor masuk ke kamar. Aku tak peduli dengan kakakku yang terheran-heran melihat tingkah lakuku yang tidak biasa, aku tak menyapanya karena memang sudah tidak ada keinginan untuk berbicara lagi malam ini. Aku tumpahkan segala perasaan campur aduk itu, kekesalan, dan sakit hati dengan menangis.

Cerita Dewasa Mahasiswa Terbaru 2015

Cerita Seks Mahasiswa Terbaru 2015
Inilah Cerita Dewasa Mahasiswa Terbaru 2015. Kenakalan seks seorang mahasiswa ditengah aktivitasnya dalam KKN (Kuliah Kerja Nyata). Selengkapnya, simak ceritanya berikut ini!

Halo agan semprot semua, ijin menceritakan pengalaman aku waktu KKN (Kuliah Kerja Nyata) Januari lalu. Demi menjaga privasi orang yang berada dalam cerita ini disamarkan namanya, dan maaf kalo penggunaan bahasanya agak formal, langsung saja.

Perkenalkan, nama ku S, mahasiswa tingkat akhir di salah satu perguruan tinggi negeri terkenal di kota S, dan kebetulan aku juga asli dari kota S tersebut, jadi aku tidak kos. Banyak orang mengatakan sih wajahku ini pas, kadang pas jeleknya kadang pas gantengnya, hahahaha.

Pada saat Januari lalu, aku baru saja malaksanakan kegiatan KKN di kampus ku, berbeda dengan teman2ku yang lain yang sudah melaksanakannya pada bulan puasa tahun lalu. Ya maklum lah, mahasiswa dengan nilai pas-pas an, IP dari 1, 2, 3 juga udah pernah, yang 4 nya belum sih ehehehe.

Kebetulan, pada saat pembagian kelompok, aku berbarengan dengan seorang cewek yang juga sejurusan denganku, sebut saja T. Tetapi kita kenal hanya sebatas kenal karena satu angkatan dan satu jurusan. Kalo boleh dibilang sih, paras cewek sejurusanku ini cantik lah, tingginya kurang lebih sekitar 155cm an, rambutnya panjang terurai, dengan tubuh yang tidak gemuk dan tidak kurus, pas lah menurut ku. Kalo bicara soal buah dada sih, relatif ya, tiap orang punya selera masing-masing. Untuk ukuran buah dadanya sih standar, 34a atau 34b lah.
Dari sejak awal survey lokasi desa yang akan kami tempati, kami berdua selalu bareng, jadi dengan KKN ini kita menjadi semakin dekat.

Pada saat survey pertama dia masih bonceng dengan teman KKN ku, namun pada saat survey ke dua, entah angin darimana dia mengajakku untuk survey berdua saja, maklum pada saat itu teman-temanku yang lain masih pada sibuk dengan urusan masing-masing dan yang bias hanya kami. Awalnya aku sih berpikiran santai, tapi kadang terlintas di pikiranku takutnya teman-temanku yang lain berpikiran yang aneh-aneh, dan akirnya aku menyarankan T untuk mengajak teman satu lagi dengan alasan agar rame.

Singkat cerita kita akhirnya berangkat dengan teman KKN ku cewek 1 lagi dengan pacarnya dan aku berboncengan dengan T. Selama perjalanan aku sedikit tidak konsentrasi karena dadanya yang selalu nempel pada punggungku, dan aku sengaja menaruh tas ku di depan karena desa yang akan kami gunakan untuk KKN lumayan dingin, selain itu karena jalan yang naik turun dan motorku yang model ayam jago yang jok belakangnya agak naik, membuatnya selalu merosot dan buah dadanya yang lumayan dan empuk itu nempel di punggungku, dia pun aku perhatikan dari spion motorku tampak membenarkan posisi duduknya, semakin nggak karuan nyetir, dari berangkat sampai aku mengantarkannya ke kosnya, udah kemana-mana pikiran.

Singkat cerita kita tiba di hari H dimana kita tinggal di rumah warga yang berada di pedesaan yang lumayan dingin. Selama KKN, kemanapun kelompokku ada acara atau main, aku dan temanku T ini selalu bersama, udah nggak bisa dipisah lah kalo dibilang, hehehe. Oya si T udah punya pacar juga, dan pacarnya mempercayakan T ke ane untuk jaga doi, soalnya udah pernah ketemu juga sama pacarnya T, ya ane sih iya-iya aja, toh paling juga gitu-gitu aja.

Selama 1 bulan lebih sedikit, kegiatan KKN ya gitu aja, selama di tempat kami tinggal, aku perhatiin si T bajunya ya baju rumahan biasa cuma kadang suka nerawang sehingga nampak BH nya yang warna warni, sering aku ngingetin juga ke T kalo BH nya itu keliatan ato sejenisnya, ya maklum sih naluri dari jaman SMA kalo ada temen cewek yang keliatan BH nya gitu suka ngingetin tapi nggak menutup kemungkinan curi-curi juga, hehehe. Kami berdua pun semakin dekat, saat kita foto, dia lebih sering ngerangkul aku, dan bodohnya aku malah pasang muka bingung, saat tanganku agak longgarpun dia nggak segan-segan untuk menggandeng tanganku sehingga aku pun merasakan tonjolan buah dadanya yang lumayan itu.

Pada saat minggu ke dua saat program kerja udah pada mulai jalan, kita sibuk dengan program kerja masing-masing sesuai jurusannya, aku dan T sengaja menyamakan agar kita bisa bareng terus gitu. Saat aku dan T sudah selesai dengan program kerja kami entah kenapa ingin pulang dulu, teman-temanku yang lain pun tanpa menaruh curiga mengiyakan saja dan kami pun pulang. Setiba di rumah, tidak ada orang sama sekali, pikirku pemilik rumah ini lagi ke warung karena memang punya warung yang tidak begitu jauh dari rumah. Akhirnya temanku T langsung ke kamar begitu juga aku untuk ganti baju dan tiduran santai karena merasa capek. Tiba-tiba T memanggilku dari atas, oya letak kamar cowok dan cewek ini atas bawah, kami para cowok di bawah sedangkan di atas kamar cewek dan toilet. Aku pun datang dan menanyakan ada apa, ternyata si T ingin ngobrol-ngobrol denganku, kita bicara macam-macam dari saat dia SMA dan kesibukannya, tetapi saat aku bertanya tentang pacarnya, doi terdiam sejenak dan tiba-tiba air matanya keluar. Bingung bukan kepalang karena aku jarang menghadapi seorang cewek yang nangis dihadapan langsung, saat kuberanikan bertanya lagi, ternyata dia lagi ada masalah dengan pacarnya dan katanya lagi putus. Iya sih, beberapa hari sebelumnya saat dia murung juga aku tanya kenapa, dan memang lagi ada masalah. Ya aku nggak bisa berbuat banyak selain menenangkannya, saat aku coba beranikan membelai rambutnya yang terurai dia hanya diam saja, lalu aku mengusap air matanya, dia tampak kaget dengan perlakuanku ini, lalu digenggamnya tanganku. Aku pun bingung ada apa, dan kami bertatapan mata lumayan lama sehingga entah siapa yang memulai bibir kami sudah bersentuhan tipis. Aku rasakan pergerakan nafasnya yang masih belum teratur akibat dia menangis tadi. Sambil aku memegangi pipinya yang agak basah, bibirku menjauh dan membisikan di telinganya “masih ada aku disini” dia pun mengangguk kecil, saat aku tatap lagi matanya dia langsung menyambar bibirku dengan halus dan perlahan. Ku ikuti pergerakan bibirnya sambil dalam hati berpikir “ganas juga ini cewek” dan aku mainkan lidahku. Dia pun merasa geli tapi menikmatinya karena bibirnya selalu nempel di bibirku sambil melenguh “mmmmhhh. . . mmhhhh . . . .”. Tanganku pun yang tadinya di pipinya sekarang sudah mendarat di pinggulnya sambil menelusuri lekuk tubuhnya. Kami melepas ciuman kami sejenak dan saling bertatapan, dia melempar senyuman dengan matanya yang sayu, membuat setiap orang seakan ingin mencumbunya, lalu aku meminta ijin untuk memegang buah dadanya yang lumayan itu, dia hanya mengangguk dengan senyuman. Kami lanjutkan lah perang bibir dan lidah kami sambil aku meremas buah dadanya yang saat itu mengenakan BH warna putih pink. Dia mendesah menikmati “aahhh. . . ahhh . .” sambil bibirku mencumbu lehernya.

Sialnya saat aku hampir mengangkat BH nya terdengar suara motor teman-temanku yang datang. Kami pun tergesa-gesa membenahi diri.

Semenjak kejadian tersebut, dia lebih sering memanggilku “pacar”, pertamanya aku pun kaget karena dia memanggil begitu di depan teman-temanku pada saat dia sedang membuatkan mie untuk ku dan teman-teman cowok yang lain. Tetapi entah kenapa teman-temanku ini tahu bahwa itu hanya bercandaan, ya aku sih terserah mau dia panggil apa asal bisa menikmatinya tubuhnya deh, hehehe.

Pada minggu ke 4, dia mendadak minta ijin pulang ke ketua ku karena ada urusan keluarga dan aku dimintanya untuk mengantarkannya bertemu dengan orang yang akan menjemputnya. Spontan di jalan aku pun bertanya “emang dijemput siapa deh? Papah mamah mu?” dia pun membalas, sama pacarnya. Agak kaget tapi nggak begitu kaget juga karena dia 3 hari sebelumnya cerita ke aku kalo dia balikan lagi. Aku pun merespon dengan jawaban santai, dia pun seolah merasa bersalah dan berkata “nggak apa kan aku dijemput pacarku?”, aku pun menjawab “ya nggak apa dong, kan pacar kamu, kalo di sini kita pacaran, kalo udah balik atau selese KKN nya kita kembali seperti biasa”. Dia mengangguk sembari memeluk ku di jalan karena di jalan pedasaan ini sepi dan jarang kendaraan lewat, sesekali dia mengecup leherku. “Kamu mau pulang kok masih curi-curi sih”, balasku. Dia hanya cekikikan sambil memeluk semakin erat.

Skip skip skip, 2 hari kemudian sore haris saaat aku sedang santai jalan-jalan di kompleks pedesaan tempat aku tinggal bersama temanku, si T menelponku “car, lg sibuk nggak? Kamu lg di mana?” tanya nya, “lagi jalan-jalan santai sih bareng anak-anak, ada apa?”, jawabku. “jemput aku di tempat kemaren bisa nggak?” langsung sigap aku menjawabnya, “bisa dong kalo buat kamu”, sambil pake nada genit, “ih gombal, oke deh 10 menit lg aku sampe kok, jangan lupa lho, muuaaach”. Tut tut tut . . . baru mau dijawab udah diputus teleponnya, langsung saja berpamitan dengan teman-temanku dan aku langsung mengambil motor ayam jago standarku untuk menjemputnya.

Sesampainya di tempat dia menjemput ternyata dia udah duluan dan sendirian, “lho kamu sama siapa kok sendirian?”, tanyaku. “tadi sama pacarku, dia udah pulang duluan”, jawabnya. Dalam hati ku “buset ini pacarnya geblek amat, kalo pacarnya ditinggal sendiri gini kalo digodain orang desa gimana, payah” dan kebetulan emang si T ini menjadi primadona di kalangan pemuda desa karena paras cantiknya. Akhirnya dia langsung membonceng dan kita pun tancap gas. Di perjalanan pun kita ngobrol-ngobrol “lho waktu tadi kamu telepon pas ada pacarmu?”, tanyaku, dia menjawab cekikikan “ya nggak lah, car, tadi dia lagi beli cemilan aku nunggu di mobil”. “kirain pas ada pacarmu kamu pas telepon tadi”, jawabku lg, “takut ya? Hihihihi”, sambil dia nyubit pinggang ku. Anjir, malah nantangin, “bukan takut sih, cuma main bersih aja kita”. Timpalku. “alah sok-sok an huuuuu, cubit lagi nih.” Balasnya. Dan kamipun begitu sampai setibanya di posko KKN. Dia pun bergegas langsung mandi dan aku pun masih ngumpul nonton tivi bareng teman-teman yang lain.

Lusanya cuaca pun mendung, kita berencana mau ke SD sekitar tempat kami KKN untuk sosialisasi terkahir kalinya, aku bangun terlambat dan dapat jatah mandi paling terakhir karena kamar mandi di rumah ini cuma 1, ada juga temanku yang buru-buru sudah biasa mandi di tetangga sebelah posko KKN kami. Dan entah disengaja atau nggak, si T juga kesiangan dan juga baru mandi setelah aku selesai mandi. Pada saat T mandi pun aku tidak memikirkan hal yang lain selain siap-siap untu acara sosialisasi ke SD. Kami berdua ditinggal karena waktu pun sudah menunjukan pukul 9 pagi dan acara dimulai jam 9.30 nya. Sesaat aku dan T sudah siap bergegas berangkat, tiba-tiba hujan pun turun lumayan deras, kami mengabari ketuaku datang terlambat. Pertamanya ketuaku meyuruh kami untuk memakai jas hujan, namun aku teringat jas hujan ku dan punya T terbawa di motor temanku yang sudah berangkat. Ya sudah deh akhirnya ketuaku memaklumi dan mengatakan untuk tidak memaksakan kalo memang deras, kebetulan di SD nya pun juga hujan yang lumayan.

Aku dan T pun ngobrol-ngobrol biasa, bercanda kadang T suka cubit pinggangku, aku pun melontarkan pertanyaan “eh ini bapak sama ibu yang punya rumah nggak di rumah? Kok tumben pagi-pagi udah nggak ada di rumah”. “kata anak-anak tadi bapak ibunya pamitan mau ada acara di kota katanya, ada sodaranya nikahan”, balas si T. lalu duduk kami berdekatan entah ada angin apa, aku pun membelai rambut nya yang wangi serta menciuminya karena memang dia habis shampoan. Aku pegang lembut pipinya dan dia pun berkata “aku nggak nyangka kita bisa gini”, aku pun bingung apa maksud dari perkataannya “maksudmu?”, jawabku singkat, dia pun merebahkan badanya ke pelukanku dan menyandarkan kepalanya di bahu ku, “ya gimana ya, kamu baik, bisa ngertiin aku, perhatian tapi waktunya malah kaya gini, kamu itu beda banget sama pacarku yang suka ngekang aku, protektiflah, apa-apa nggak boleh”. Aku paham arah pembicaraannya, aku balas, “lho kan tinggal diputusin aja gampangkan pacarmu?”. “nggak semudah itu, orangtua ku sama dia udah deket, begitu juga sodaranya, udah 3x selama KKN ini aku minta putus tapi dia nggak mau”.

Saat itu aku memperhatikan matanya berkaca-kaca, sambil aku belai rambutnya aku pun menenangkannya dengan gaya sok cool romantis gitu  “ya udah, nggak apa, emang begini jalannya, kalo di sini kita emang gini, tapi kalo di kampus kita seperti biasa aja, kamu tahu sendiri kan aku juga udah punya pacar, semuanya pasti baik-baik aja kok, kalo jodoh emang nggak kemana”.

Dia pun makin menjadi tangisannya, tampak bedak di wajahnya luntur akibat air matanya. Aku pun mengusap air matanya dan menenangkannya. Dia menatapku dalam-dalam kemudian tanpa kita sadari bibir kami sudah bersentuhan entah ada angin apa T melumat bibirku dengan kencang. Aku pun membalas dan memainkan lidahku, dia juga nggak mau kalah “mmmmhh. . . mmmhhh . .” 

tanganku pun sudah berada di buah dadanya yang masih terbungkus jaket KKN. Dia melepas ciumanku dan berbisik “di kamar aja” langsung saja aku bawa ke kamar cowok yang biasa digunakan tidur oleh temanku, aku lepas jaket T, dia mengenakan kemeja denim menurutku membuatnya tampak makin cantik. Dia nyeletuk “kok diem aja?” dalam hatiku “wah ini anak emang bener-bener deh” langsung saja aku cumbu lagi bibirnya, aku lumat, aku mainkan lidahku, dia pun tak mau kalah juga membalas lidahku dan sesekali menyedotnya. Tanganku pun sudah berada di atas balutan BH nya yang ukuran 34b (yang ini tanya ke doi akhirnya tau) dengan warna merah yang mengundang gairah. Langsung saja aku copot pengait BH nya dan nampak buah dada T dengan ukuran 34b nya, aku remas aku mainkan putingnya dia hanya melenguh “aahhh. . . enak car mmmhhhh” sementara bibir ku masih menciumi telinga dan leher nya. Sekitar 15 menit aku mainkan buah dadanya dia seperti nya udah di ubun-ubun nafsunya “diemut car. . . diemut mmhhhh” tanpa komando pun aku juga sudah menjilati antara buah dada nya, lalu mengemut putingnya yang kecil berwarna coklat muda sembari tangan kanan ku memainkan dan meremas puting dan buah dadanya yaang kiri “iya caaaar, enak diemut mmmmhhhh. . . geli caaar, aaaahhhh. . . aaahh. . .”

Saat itu juga tangan ku yang kanan pun sudah mengorek memeknya yang dibalut celana jeans ketat, aku merasakan memeknya sudah basah. Aku pun langsung mencopotnya dan nampak lah celana dalamnya yang berwarna merah juga, warna ini sungguh membuat ku nafsu.

Ku lepas baju dan celana ku serta celana dalam ku sehingga “adik” ku yang tidak besar dan tidak kecil ini mencuat dengan keras. T pun langsung menyergap “adik” ku dan menjilati nya serta di sedot nya, “ahhh caaar, enak caaar, sedot terus sayaaaang aahhh. . .” celoteh ku. Ku akui wajahnya yang cantik sambil mengemut “adik” ku ini sangat menggairahkan. Aku pun nggak diam aja, aku copot celana dalam T dan terlihat sebuah gundukan yang bersih terawat tanpa bulu sehelaipun di memeknya, hal ini membuatku semakin bernafsu. Ku jilati memeknya sehingga posisi kita sekarang di posisi 69, sungguh nikmat sedotan si T. Ku jilati gundukan kecil di memeknya yang bersama klitoris sembari dia masih mengulum “adik ku” “aaahhhh. . iya sayaaaaang, jilat terus yang situ aaahh. . . mmmhhhh. . .”

sekitar 10 menit kita berada di posisi 69 lalu aku merebahkan tubuhnya di kasur lipat yang dibawa teman ku, aku ciumi bibir nya, lehernya, emut putingnya dan meremas buah dadanya “sayaaang mmmhhhh. . . terus caaar. . aaahh. . .”

Saat aku gesek-gesek “adik” ku di memeknya dia menggelinjang keenakan, “ayo caaar di masukin mmmhhhh. . .” agak sempit emang memeknya si T meskipun sepertinya sudah pernah melakukan seks, tapi itulah yang menjadikan nafsu ku untuk menggenjotnya terus, aku masuk kan perlahan “pelan-pelan caaaar, mmmhhh. . . enak caar aaaahh. . .”

Setelah sudah masuk semua batang “adik” ku genjot maju mundur pelan-pelan agar memek T terbiasa. Ku genjot pelan maju mundur dia pun sudah melenguh keenakan nggak karuan “caar terus caaar aahhh. . . punya mu mmhhhh. . .” lalu kunaikan temponya dan dia semakin mendesah, menggelinjang “aaahhh.. aaahhh. . . terus caaar. . mmmhhh. . . enaaak aaah… aku milikmu aaahh. . .” sambil dia melingkarkan kakinya erat ke pinggangku.

Setelah itu kita berganti gaya doggy style, aku merasakan cengkeraman memeknya semakin peret semakin nikmat untuk di genjot “yaaaang. . . aaaaahh. . aaaah. . . te. . . ruuus yaaang. . .” Desahannya justru membuat ku semakin bernafsu, ku genjot semakin kencang dan dia semakin melenguh keenakan “caaaar. . . aku mau keluaaar. . . aaaaahh…” dan akhirnya aku merasakan cairan hangat mengalir di dalam memeknya. Ternyata dia sudah keluar duluan.

Aku biarkan dulu sekitar 2 menit untuk dia menikmati masa orgasme nya, lalu sekarang giliran dia yang diatas alias WOT. Di posisi ini dia justru semakin menjadi memeknya, dengan gerakan naik turunnya dan kadang di pelintir mirip dengan film bokep yang biasa aku tonton, nikmat sekali dengan cengkeraman memeknya nya yang masih lumayan seret dan kencang. “Terus pelintir sayaaang aaaah. . enaaak caaar. . .” desahku.

Tanganku juga nggak mau kalah, keduanya Meremas dan memainkan puting coklat muda nya. “geliii caaar. . aaaah. . . aaah. . aaaahh. . .” dengan gaya pelintir nya tadi membuat “adik” ku seakan ingin memuntahkan maninya karena emang saking enaknya. “aku mau keluaaar yaaaang. . .” dia pun juga membalas “barengan caaaar. . . kontol kamu enak banget aku mau keluaaar lagiiii aaaahh. . .”

Dan selang beberapa menit kemudian aku pun udah nggak kuat menahan isi “adik” ku begitu pun T yang sudah mau keluar kedua kalinya, “caaar. . . terus caaar. . . aaaahh. . . mmmhhhh. . . akuuu miliik. . . muuuu. . aaaaahh…” akhirnya kami berdua pun keluar bersamaan dan T langsung lemas di pelukan ku.

Hari berganti dan terus berganti hingga tiba saatnya KKN kami selesai, semenjak kejadian itu sebelum tiba hari pelepasan dari kampus dan perangkat desa, T masih sering mengajak ku ya walau sekedar curi-curi cium, memainkan dan meremas buah dadanya. T pun memeluk satu-satu temanku, dan pada saat memeluk ku erat sekali pelukan nya. Aku sudah tidak menghiraukan temanku yang lain, nampak air matanya menetes dari wajah cantik nya dan aku pun mengusap nya.

Saat tim kami akan menuju ke kecamatan untuk upacara pelepasan aku sengaja memacu kendaraan ku pelan agar bisa ngobrol lebih kama dengan T. “sudah saatnya kita kembali ke kehidupan masing-masing, kamu yang aku kenal di kampus akan selalu aku kenal seperti kamu di sini, kita tetep usahakan komunikasi walaupun nggak se sering di sini, terimakasih untuk kebersamaan nya, semuanya yang kamu beri untuk aku”. T terdiam agak lama, memeluk ku erat, lalu dia juga membalas “terimakasih juga udh ngertiin aku, nglindungin aku, kamu lebih dari yang aku duga, aku harap ini bukan perpisahan, di kampus mungkin aku nggak bakal bisa panggil kamu pacar, tapi di dalam hatiku kamu tetep pacar aku”. sambil dia mengecup leher ku saat perjalanan ke kecamatan.
Akhir cerita sampai saat ini kita masih sering ketemu di kampus karena kita sama-sama sedang menyelesaikan skripsi, meskipun kita hanya melempar senyum, ada maksud tersendiri dibalik senyuman nya, kita juga masih sering ngobrol tapi kita juga jaga jarak untuk pacar kita masing-masing.

Terimakasih agan-agan semproters, maaf jika cerita ini jelek, dan kurang dalam segi penulisan karena TS bukan seorang penulis, semoga agan-agan menikmati nya

Cerita Dewasa Setengah Baya

Cerita Seks Setengah Baya
Inilah sebuah cerita dewasa setengah baya. Kisah seks antara tante dan keponakannya sendiri yang terlibat hubungan seks yang sepatutnya tidak terjadi. Simak cerita lengkapnya berikut ini!

Namaku Roby. Saat itu tahun 1982, dan aku baru berumur 14 tahun. Sebagai anak tunggal yang mulai punya rasa ingin tahu terhadap dirinya sendiri, dalam usia itu aku mulai sering memperhatikan alat kelaminku sendiri, memain-mainkannya dan larut dalam kebingungan, untuk apa semua itu ada. Di rumah, aku lebih sering tidur dengan pembantu rumahku. Keadaan itu berubah waktu tanteku (adiknya ibuku) yang bernama Lina, ikut menumpang tinggal dengan orang tuaku. Ia waktu itu berusia belasan (masih SMA), dan bakat tubuhnya yang sintal mulai terbentuk. Tante Lina sangat menyayangiku, karena aku adalah cucu pertama di keluarga besar kami.

Mulai saat itu aku lebih sering tidur sekamar dengan tanteku. Mulai tumbuh perasaan nyaman tidur bersama orang dekat, dan mulai terbiasa dengan pelukan dan sentuhan yang hangat diantara kami. Tentu saja walaupun saat itu aku sudah bisa ereksi, tapi usia segitu belum memungkinkan aku untuk memahami persoalan seks. Tanteku punya kebiasaan yang unik, setiap tidur dia menanggalkan pakaiannya, menyisakan bra dan CD, kemudian membungkus kami berdua dalam selimut yang hangat, dan mulai memelukku sampai pagi. Kebiasaan ini berlangsung berbulan-bulan.

Suatu malam, karena kegerahan, aku terbangun. Aku terkejut karena tanteku tidak dalam posisi biasanya yang selalu memelukku dari belakang. Saat mataku membuka, aku melihat pemandangan baru, yaitu bongkahan pantat tanteku yang sedang tidur menyamping, terpampang jelas di depan mataku. Dengan berdebar dan gemetaran, naluriku mulai bertindak. Aku mendekatkan wajahku, menghirup bau tubuh yang terasa aneh namun menggairahkan, dan meraba-raba bongkahan pantat tanteku sehati-hati mungkin. Kebiasaan ini berlangsung terus, dan di hari-hari berikutnya keberanianku tumbuh perlahan-lahan, untuk melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar itu. Kadangkala aku meraba pantatnya, sembari tanganku yang lain memain-mainkan penis kecilku. Pernah pula beberapa kali tanganku mencoba menyusup ke dalam CD-nya, namun belum pernah mencapai hasil yang memuaskan, karena biasanya tanteku mulai menggeliat. Dan akhirnya semua kesenangan ini mesti terputus karena setelah genap setahun, tanteku kembali tinggal bersama orang tuanya untuk melanjutkan ke Perguruan Tinggi.

Suatu kali di tahun 1985 (usiaku 17 tahun), aku sekeluarga berlibur ke rumah nenekku, yang terpisah pulau dari rumah tempat aku dan orang tuaku tinggal. Aku senang sekali berjumpa kembali dengan Tante Lina, dan masa-masa liburan itu dia sering mengajakku jalan-jalan, membelikanku mainan dan sebagainya. Suatu siang, sepulang dari bermain-main di sekitar rumah, aku menemukan rumah dalam keadaan sepi. Semuanya sedang tidur. Iseng-iseng aku masuk ke kamarnya Tante Lina, dan ternyata dia sedang tertidur pulas. Saat itu tadinya aku mau bermain kembali dengan anak-anak tetangga, tapi melihat Tante Lina yang tidur telentang dengan roknya dalam keadaan tersingkap, membuatku teringat kembali mainanku beberapa tahun yang lalu.

Aku naik ke pinggiran ranjang, dag-dig-dug, ragu, wajahku memerah, tapi tidak ada waktu untuk kembali. Telapak tanganku mulai menyusuri kaki Tante Lina dari bawah, dan dia tetap tertidur. Sambil meneguk ludah dan susah bernafas, kusadari telapak tanganku sudah berada di pangkal pahanya. Aku naikkan rok tanteku, dan terpampanglah didepan mataku, CD berenda yang berwarna krem, dengan latar beberapa helai bulu kemaluan yang keluar dari orbit, dan cetakan bibir kemaluan yang tebal dan indah, dalam keadaan yang basah dan hangat. Aku makin susah menelan ludah, tapi semuanya sudah dalam keadaan tanggung. Kuteruskan aksiku, dengan tanganku perlahan-lahan mulai masuk ke CD tanteku dari samping. Tiba-tiba tanteku terbangun seperti kaget, dan sebelum sempat mengucapkan apa-apa, aku tarik tanganku keluar, dan kabur secepatnya ke ruang keluarga. Entah kenapa, aku merasa berdosa sekali. Walaupun aku belum tahu apa-apa soal itu, aku merasa bersalah, dan takut tanteku marah. Ternyata tanteku tidak marah, ia menghampiriku, dan mengajakku tidur bareng. Akhirnya akupun mengikutinya tidur, dan tidak melakukan apapun.

Keesokan harinya adalah salah satu hari yang bersejarah bagiku. Saat terbangun, orang tuaku bersama kakek nenekku sedang mengunjungi kerabat yang lain. Tinggal aku dan Tante Lina ku saja dirumah. Belum sempat aku turun ke kamar mandi, aku melihat tanteku melewati kamarku, hanya dengan lilitan handuk di tubuhnya. Aku pun segera beranjak, dan mencoba menengok ke kamarnya yang pintunya tidak ditutup. Ya ampun, di kamarnya, aku melihat tanteku yang membelakangiku, mulai menurunkan handuk dari tubuhnya. Pantatnya yang besar itu bergoyang-goyang sementara dia memilih-milih pakaiannya dalam lemari. Pandanganku nanar, tidak tahu harus berbuat apa. Dan ketika dia berbalik, aku yang hanya berjarak beberapa meter darinya, dengan terpaksa harus menerima pemandangan bugil tubuh depannya yang montok itu. Aku tidak tahu tanteku sedang apa, dan mengapa ia tidak bereaksi dengan kehadiranku. Mungkin ia tidak melihatku yang sedang duduk dari luar kamarnya, atau mungkin ia berpura-pura tidak melihatku, entah dengan motif apa. Tampak bagiku ia seperti sedang memessage dirinya sendiri, melakukan gerakan-gerakan relaksasi, dengan payudara bulat kencang besarnya tengah berayun-ayun, perutnya yang meliuk-liuk, dan.. ya tuhan! Aku tidak tahan melihat kakinya yang perlahan meregang-regang, dengan belahan vaginanya yang indah itu terbuka seperti mengajakku untuk bermain. Aku langsung pergi ke kamarku, merasa pusing dengan kejadian barusan, merasa terundang untuk melakukan sesuatu, tapi aku tidak tahu apa dan harus bagaimana.

Sepulang dari liburan, dan selama masa pertumbuhanku berikutnya, bayangan tentang tanteku sulit sekali disingkirkan dari kepala, dan berperan banyak waktu fantasi seks-ku mulai terbentuk. Ketika mulai mengenal masturbasi dan ejakulasi, aku selalu membayangkan belahan vaginanya yang menerima semburan spermaku. Bebeberapa tahun kemudian ia menikah dengan seorang polisi, mengikuti suaminya pindah ke kota lain, dan dari kabar yang aku terima ia sekarang menjadi ibu rumah tangga yang baik. Aku pun mulai melupakannya, sampai kemudian, suatu kesempatan yang tidak terduga tiba-tiba datang.

Tahun 1993. Saat itu aku berumur 25, tumbuh menjadi seorang remaja yang berlibido tinggi, masturbasi tiap hari, rajin mengkonsumsi segala material porno yang sedang in saat itu, seperti enny arrow, playboy, video blue film dan lain-lain. Dan aku sudah tahu, apa yang harus aku lakukan apabila ada kontak fisik dengan seorang wanita, walaupun tentu saja, belum pernah melakukannya. Saat itu, tanteku yang bungsu, Lia, yang berumur sebaya denganku, mengajakku untuk berlibur ke rumah kakaknya, Lina. Tentu saja aku pun mau, dan kami berdua berangkat kesana.

Saat itu, Tante Lina yang sebenarnya masih muda (sekitar 26-27 an) semakin montok saja, dan belum dikaruniai anak. Suaminya yang polisi, sedang mendapat piket malam. Otomatis kami bertiga merasa bebas tidur dimana saja. Malam itu, sehabis nonton acara TV, aku yang tadinya berniat untuk tidur dengan Tante Lina, tapi karena kecapean aku tertidur di kasur yang digelar darurat di ruang tengah. Jam 3 pagi aku terbangun, dan terkejut karena tiba-tiba Tante Lina tertidur di sebelahku, sementara adeknya, Tante Lia, entah tidur dimana. Semua kenangan bersamanya terbawa kembali saat itu ke ingatanku, dan aku merasa, inilah saatnya aku merespon apa-apa yang pernah dia tunjukkan padaku.

Tanteku tidur menyamping, daster yang ia kenakan tampak membuatnya semakin terlihat semakin seksi saja. Saat itu keberanianku sudah penuh, dan aku yakin, apa-apa yang pernah dia tunjukkan padaku adalah cermin dari keadaan dirinya yang berlibido tinggi. Aku langsung melucuti pakaianku sendiri sampai bugil, kemudian perlahan-lahan mengangkat dasternya sampai di perutnya. Aku mulai mengocok-ngocokkan penisku yang sudah tegang, dan tanganku yang lain meraba-raba kemaluannya dari balik CD-nya. Kemudian kusingkapkan CD-nya, dan pemandangan bibir vaginanya membuatku membuatku makin bernafsu. Aku naikkan lagi dasternya sampai diatas dadanya, kemudian aku angkat bra-nya, dan buah dadanya pun tersembul manis. Tiba-tiba Tante Lina mendesah pelan, mengubah posisinya menjadi telentang, dan terlihat pulas kembali. Aku sudah tidak peduli apakah ia akan bangun atau tidak. Apabila ia terbangun, aku sudah siap dengan seribu penjelasan. Kemudian aku lucuti CD-nya, dan inilah akhirnya buah penantianku.. Tanteku yang bugil, telentang, siap disetubuhi.

Kudekatkan wajahku pada vagina Tante Lina, baunya yang menggoda membuatku langsung saja menjilati bibir kemaluannya, sambil kedua tanganku menyorong keatas, memainkan puting buah dadanya. Aku terus melakukan itu, dan lama kelamaan, pinggul tanteku mulai bergoyang, mengimbangi gerakan lidahku di seputar klitorisnya. Aku mulai memindahkan nafasku lewat mulut, dan mencoba mendorong lidahku berkali-kali ke lubang vaginanya. Makin kesetanan tanteku bergoyang, dan tangannya seketika menjambak rambutku, menghimpitkan selangkangannya ke wajahku, di saat bersamaan dengan lidahku yang terus menerobos lubangnya, merasakan dindingnya yang hangat dan gurih. Peduli setan dengan nafasku yang sesak, aku hanya ingin melakukan itu sampai aku gila sendiri. Tiba-tiba, tanteku menggelinjang, pantatnya terangkat keatas, meregang-regang, dan akhirnya terkulai kembali kekasur. Satu tangannya menutupi vaginanya, namun antara jadi telunjuk dan jari tengah terbuka, menyisakan lubang itu untuk kumasuki. Aku sudah mafhum, tanteku sebenarnya telah terbangun tapi masih berpura-pura tidur dan tidak ingin membuka percakapan.

Aku langsung berinisiatif, kudekatkan penisku pada vaginanya, dan mencoba untuk memasukkannya. Namun tiba-tiba, tangan tanteku memegang erat penisku, dan kemudian ia mendorong tubuh telentangnya ke depan, sampai mulutnya berada di depan penisku. Aku jengkel sekali, ia melakukan semua itu dengan terpejam. Namun karena nafsuku sudah di ubun-ubun, kuikuti saja kemauannya.

Tiba-tiba tanteku mendekatkan mulutnya ke penisku, dan mulai mengisap kepala kemaluanku perlahan-lahan. Nikmat yang kurasakan membuatku secara naluriah mendorong kemaluanku ke dalam mulutnya, dan iapun mulai mengulum batang penisku, dengan bantuan tangannya mengocok dengan cepat. Ah, nikmat sekali rasanya saat itu, melihat mulut dan tangan tanteku sendiri yang sedang sibuk membuat keponakannya senang. Tak lama kemudian, saat aku mulai mengejang, ia menarik mulutnya dari penisku, namun tetap menganga, dan tumpahan spermaku pun membanjiri rongga mulutnya. Akupun terkulai dengan lemas, dan tanpa canggung lagi mulai berbaring sambil memeluknya, teringat kenangan dengannya semasa aku kecil. Malam itu aku tertidur dengan harapan bahwa hari-hari berikutnya penuh dengan pengejaran dan pemuasan kenikmatan tubuh.

Namun hal itu tidak pernah terjadi lagi, karena di hari-hari berikutnya ada saja gangguan. Kadang-kadang, Lia, tanteku yang bungsu, begadang semalaman. Hari yang lain terkadang Tante Lina tidur duluan. Sampai akhirnya liburan habis, aku pulang dengan kenangan yang memabukkan libidoku, sekaligus sangat penasaran untuk bisa benar-benar menyetubuhi Tante Lina.

Tahun berikutnya aku masuk SMA, dan karena kecapean, aku terpaksa di opname karena sakit thypus. Seminggu dirawat di rumah sakit tanpa melakukan apa-apa membuatku jenuh tidak kepalang. Beberapa kali aku minta pulang, namun dokter belum mengizinkanku, pedahal rasanya aku sudah cukup sehat. Keluargaku giliran menjagaku di rumah sakit, sampai akhirnya, Tante Lina datang, dan mengatakan bahwa esok hari ia akan menjagaku seharian. Aku senang sekali dengan kedatangannya, dan seribu rencana pun mulai kususun sebagai pengisi kebosanan. Ruang rawatku yang luas, memiliki 2 ranjang dan kamar mandi didalam. Aku mulai merasakan keintiman tertentu saat melihat Tante Lina mulai tidur di ranjang sebelah.

Paginya, aku terbangun jam 6. Saat itu suster mulai datang, memeriksa jarum infus, menyiapkan makan dan melakukan tetek bengek lainnya yang tidak terlalu kuperhatikan. Suster mulai memandikan aku, mengelap tubuhku dengan air hangat dari kepala ke kaki. Saat itu Tante Lina sedang di kamar mandi. Di pagi yang dingin itu penisku mulai tegang, dan saat sang suster sedang mengelap kakiku, tubuhnya yang sedikit membungkuk membuatku tidak tahan melihat belahan dadanya yang membusung. pelan-pelan kubuka CD-ku, dan kemaluanku yang saat itu berukuran 15 cm mulai meronta, kukeluarkan dari kandangnya lalu kukocok pelan-pelan. Tatkala suster melihatku, terlihat ia sedikit kaget, namun cepat menguasai dirinya.

“Nakal yah..”, serunya sambil tersenyum manis.

“Bersihin dong Mbak”, sahutku sambil menunjuk kemaluanku. Terlihat sekilah ia melihat ke arah kamar mandi, mungkin sudah tahu ada yang sedang menjagaku, dan ia pun hanya tersenyum kembali.
“Besok lagi deh”, jawabnya sambil kembali menyelimutiku, kemudian mendekatkan nampan makanan, dan berlalu dari kamarku. Wah, inilah saatnya. Aku tinggal berdua dengan Tante Lina, dan rencanaku pun mulai mengalir. Aku kembali mengocok-ngocokkan penisku agar selalu dalam keadaan tegang, dan aku harus tetap terlihat belum terlalu sehat untuk bisa ke WC sendiri.

Tanteku keluar dari kamar mandi, saat itu aku mulai bisa mendeskripsikan dirinya. Berkulit kuning langsat, rambut keriting dengan tinggi sekitar 165 cm dan berat 60-an membuatku sangat mabuk, karena aku suka dengan perempuan yang montok. Sementara saat itu tinggiku 170 cm dengan berat 60 kg. Ia hanya mengenakan t-shirt dan rok pendek.

“Bagaimana Bayu, agak baikan?”, tanyanya sambil mengeringkan rambutnya.

“Iya Tante, apalagi Tante yang jaga, pasti besok bisa pulang, he.. he.. Tapi masih agak pusing nih kalau berdiri”, jawabku beralasan.

“Ya sudah tiduran saja enggak apa-apa, kalau ada apa-apa biar sama Tante saja”, sahutnya sambil mulai menyuapiku.
“Tante, saya jenuh nih. Beliin majalah atau koran dong”, kataku.
“Iya nanti Tante beliin, tapi sekarang makan dulu yah”, jawabnya singkat.
Selesai menyuapiku ia langsung keluar untuk membelikanku koran. Dengan tangan kiri terpancang pada tiang infus, aku cepat-cepat membuka piyamaku dengan tangan kanan, melucuti seluruh pakaianku, membuang pakaianku kebawah ranjang, lalu menyelimuti kembali tubuh bugilku. Aku terus mengocok penisku agar tetap tegang.

Sekembalinya dari luar, Tanteku memberiku beberapa koran dan majalah, dan iapun mulai membaca salah satunya. Sambil membaca koran aku mulai dag-dig-dug. Beberapa kali aku berpikir ulang, sampai akhirnya tekadku sudah bulat.

“Tante, pengen pipis nih”, kataku.
“Oh, mau ke WC apa di pispot?” sahutnya.
“Di pispot aja deh, belum kuat berdiri nih”, jawabku berbohong.
Tanteku mulai mengambil pispot, dan perlahan-lahan membuka selimutku. Terasa berdesir dan ada gairah yang sulit diungkapkan, waktu tubuh bugilku beserta penisku yang mengacung itu mulai terbuka untuk kedua bola mata Tanteku.

“Lho, pakaianmu ke mana Bayu?”, kata Tanteku menyembunyikan keterkejutannya, sambil melihat batang penisku.

“Nggak tahu Tante, tadi abis dimandiin suster nggak dipakein lagi. Di bawah ranjang kali”, sahutku ngasal. Tanteku mulai mendekatkan pispot ke sisi ranjang, dan aku mulai memiringkan tubuhku, kemudian Tanteku memegang penisku, dan mengarahkan ke pispot. Tampak ia agak khawatir dengan sesuatu.

“Kapan suster ke sini lagi?”, tanyanya.
“Masih lama Tante, paling entar, pas makan siang. Emang kenapa?”, tanyaku balik.
“Nggak apa-apa sih.. Eh, udah punya cewek belum Bayu?”, sambil tetap memegangi penisku yang belum pipis juga.
“Lagi kosong Tante. Belum pernah lagi, semenjak waktu liburan di rumah Tante”, sahutku sambil memancing tanggapan dia atas kejadian yang pernah kami lakukan. Tampak dia terpaku, mungkin tidak begitu suka dengan pendekatan seksku seperti itu, namun tetap memegangi batang penisku, yang terasa hangat di genggaman tangannya.

“Mana nih pipisnya?”, katanya sambil tersenyum.
“Enggak tahu Tante, tadi pengen pipis. Mungkin pengen pipis seperti waktu dirumah Tante”, kataku blak-blakan, sudah enggak peduli apa-apa lagi. Tiba-tiba ia mendesah, melepaskan tangannya dari penisku, menyimpan pispot, mulai menutupi tirai dan mengunci kamar kami. Aku agak terkejut karena tiba-tiba, keintiman masa lalu itu datang kembali dengan cara yang lebih vulgar. Sambil menangis, ia membuka seluruh pakaiannya, berjongkok di sisi ranjang, dan dengan buas mulai mengulumi testisku.

“Oh Tante, nikmat banget.. terus Tante..”, kataku mulai mengerang.

“Maafin Tante waktu itu ya Bayu.. Tante khilaf”, serunya sambil tersedu-sedu namun terus memainkan penisku. Aku tidak mengerti apa yang dia maksud, aku tidak tahu kehidupan rumah tangganya, yang ada bagiku saat itu hanyalah pertalian emosi dan nafsu yang ada antara aku dan dia, sejak aku kecil. Dan aku akan menikmatinya, tanpa alasan apapun. Aku hanya ingin menikmatinya. Setelah puas dengan penisku, ia mulai naik ke ranjang. Menciumi dan menjilati seluruh tubuhku. Nikmat yang sukar kulukiskan, sapuan lidahnya meliuk-liuk ganas di telingaku, diwajahku. Turun ke puting dadaku, perutku, dan kembali ke selangkanganku. Tanteku bagai hewan seks yang lapar.

“Naikin pantatnya Bayu, Tante mau jilatin lubang pantat kamu”, seronoknya.

Aku mulai menaikkan pantatku, dan lidahnya tiba-tiba bersarang di sana. Geli, malu, nikmat semuanya campur jadi satu. Ia memutar-mutarkan lidahnya tepat dilubang pantatku dan menyodok lubangnya dengan perlahan-lahan tapi mantap. Tiba-tiba ia membalikkan wajahnya, dan begitu saja menyuguhkan bongkahan pantatnya diatas tubuhku yang telentang, sambil terus menjilati penis dan testisku. Belahan vagina dan lubang pantatnya tampak membuka seiring regangan kakinya. Aku sudah kehilangan rasa jijikku saat itu, kedua lubang nikmatnya yang tampak sedang meledekku langsung saja kujilati tanpa ampun. Dan ia mulai menceracau dan mencaci tidak keruan.

“Oh Bayu, penis..Bayu, aduh, vaginaku jadi enak. Enak enggak sayang? Hanget yah? Jilat yang, terus jilatin yah.. euuh”. Aku enggak tahan mendengar omongan joroknya. Ia terus menyodokkan pantatnya kebelakang sambil lidah dan tangannya mengocok penisku dengan cepat. Aku enggak tahan.

“Enak enggak sayang? Harus cepet goyangnya kalau pengen enak yang. Uhh, vagina Tante suka lidah kamu Bayu.. hangat, oughh..”.

“Pelan-pelan dong Tante, nanti saya enggak kuat nih”, aku mencoba bertahan.
“Iya yang, muncratin sini penisnya di mulut Tante yang.. sini muntahin”, sahutnya sambil mengerang dan mengocok penisku dengan gila.
“Arrgghh.. ampun Tante, aduh enak.. aduuh!”

“Iya sayang, penis enak, nanti Tante kasih vagina yah”. Seiring dengan ucapannya pada kata vagina, aku enggak tahan lagi, muntahan spermaku memancur keluar ke atas. Tante gilaku mulai mengulumi penisku yang sudah belepotan dengan sperma. Aku terkulai, dan ia membalikkan tubuhnya, memelukku erat. Sebagian muntahan sperma susulan terus ia perah dengan tangannya dari penisku. Ia mulai beranjak ke kamar mandi, dan aku tertidur ayam sebentar.

Terbangun beberapa menit kemudian, terpampang kembali kenangan masa silam. Tanteku berdiri membelakangiku di depan kamar mandi, dengan satu kakinya berpijak diatas wastafel, menunggingkan pantatnya, dan kedua jari tangannya maju mundur keluar masuk di lubang vaginanya. Penisku mulai tegang kembali, dan aku mulai masturbasi sambil menikmati bokong indah Tanteku. Tanteku kumat lagi, dan mulai memutar mutarkan pantatnya.

“Tante, ngentot yuk”, rayuku. Sambil tersenyum nakal dan mata yang menantang, ia terus memutar
mutarkan pantatnya. Aku enggak tahan. Aku langsung beranjak dari ranjang, berdiri sambil tangan kiriku menyeret tiang infus yang beroda, dan mendekati Tanteku dari belakang. Ia terkejut melihat aku bisa berdiri, tapi kemudian dengan bahasa tubuh aku yakinkan dia agar tetap disitu. Tangannya mulai ia lepas dari lubang vaginanya, dan kemudian ia angkat lagi pantatnya dengan bantuan kedua telapak tangannya yang membukakan lubang vaginanya.

“Uh, ayo colok Tante Bayu, pake penis..”, erang Tanteku manja.

“Oughh..”, enggak tahan aku dengan gelinya kepala penisku waktu mulai bergesekkan dengan bibir kemaluannya.

“Ayo yang, colok yang dalem, gatel..”, seringainya sambil menekan pantatnya ke belakang. Dan waktu penisku memasuki vaginanya sepenuhnya, kami berdua kesetanan dan mulai berpacu mengejar puncak kenikmatan.

“Oooh, Bayu..enak, oh, kontol kamu enak bangeet siih”, menggeram Tanteku dengan tubuh yang terhentak-hentak.

“Pengen pipis di dalem, oohh.. Tante, aku enggak kuuat”. Lama kelamaan berdiri membuatku berkeringat. Dengan tangan kiri memegang tiang infus dan tangan kanan bersandar pada tembok, membuat pinggulku dalam posisi bebas untuk menyodok kemaluannya sedalam mungkin. Kedua tangan Tanteku mulai memegang wastafel, dan ia makin tak terkendali. Tubuhnya yang terguncang-guncang, pantatnya binal menghentak-hentak dan basah vaginanya membuatku lupa daratan.

“Ooh Tantee, buka vaginanya doong, pengen lihat”, kataku lirih dalam guncangan goyangannya. Ia
menarik satu tangannya ke belakang, dan membuka belahan pantatnya. Pemandangan yang makin membuatku mabuk terguncang guncang, dan ia makin seronok.

“Oh anjing kamu Bayu, ngentotiin Tantee kaya babi..oh, anjing ngentot!”, ceracau Tanteku enggak keruan. Aku enggak tahan lagi.

“Arrggh, Tante.. ooh, nikmaathh!!”, aku pun kelojotan di dalam vaginanya, dengan sigap ia pegang erat pantatku dan mendorongnya makin dalam sambil memutar mutarkan pantatnya. Nikmat, serasa terbang dan rasa ngilu karena goyangan pantatnya enggak berhenti membuat mataku berkunang kunang. Persetubuhan singkat itu membuat kondisi tubuhku ngedrop, dan aku terjatuh, tidak ingat apa apa lagi. Hal terakhir yang aku sadari adalah lepasnya jarum infus dari tanganku.

Terbangun di sore hari, Tanteku sedang duduk di kursi sambil membaca majalah. Suster sedang memeriksa kondisiku, memastikan segalanya baik-baik saja. Aku tiba-tiba sadar, dibalik selimutku, Tanteku belum mengenakanku pakaian. Sebelum keluar dari ruangan, suster itu mengernyitkan dahi sambil memandangi sebentar cetakan penisku yang membayang di balik selimut. Mungkin ia bingung dengan apa yang terjadi, akhirnya ia tersenyum, mencubit kecil penisku dari luar selimut dan berlalu dari kamar. Tanteku memelukku dan berjanji tidak akan mengizinkan aku menikmati tubuhnya lagi sambil berdiri. Hari itu adalah hari yang paling aneh, namun sekaligus paling menyenangkan.

Aku tidak pernah berhenti berpikir tentang Tanteku sampai saat ini. Setidaknya, tidak bisa melupakan hasratku yang terus menerus menggangguku, yaitu hasrat seks pada wanita-wanita berumur. Dan sampai sekarang, orientasi seksku yang terbesar adalah berhubungan dengan wanita-wanita paruh baya.

Isteri Selingkuh di Rumah Saat Suami Kerja Malam

Isteri Selingkuh di Rumah Saat Suami Kerja Malam! Pasangan selingkuh yang tengah berduaan di rumah sang perempuan, digerebek puluhan warga RW 5, Kelurahan Cilangkap, Tapos, Depok, Rabu (15/10/2014) dinihari.

Warga yang marah langsung menghakimi IH (35) sang pria, hingga babak belur.

Sementara SN (25) sang perempuan yang juga penghuni rumah, menahan malu atas kejadian ini.

Keduanya lalu digiring warga ke rumah Ketua RW 05, Supriyadi.

David, salah seorang warga mengatakan, bahwa IH adalah mantan guru SMA, SN.

Perselingkuhan IH dan SN sebenarnya sudah diketahui warga beberapa bulan terakhir ini.

Padahal, katanya SN dan IH sama-sama sudah memiliki suami dan istri.

Untuk SN, katanya, suaminya adalah seorang petugas keamanan yang kadang mendapat shift malam.

"Saat suaminya kerja malam itulah, IH ke rumah SN lewat pintu belakang sampai pagi hari," kata Yudi, warga lainnya, Rabu (15/10/2014) sore.

Menurutnya, IH yang tinggal tak jauh dari rumah SN atau hanya berbeda RW, kerap menyelinap ke rumah SN melalui pintu belakang rumah agar luput dari perhatian warga.
"Jadi yang prianya ini kalau datang dan keluar lewat pintu dapur. Ia datang malam dan pulang sekitar pukul 05.00, sebelum suami SN pulang," katanya.

Menurutnya penggerebekan dilakukan setelah warga jengkel atas ulah keduanya. "Soalnya warga pernah mengingatkan keduanya terutama yang laki-laki. Tapi selalu diulang terus," kata Yudi.

Walaupun begitu, saat di rumah Ketua RW, warga sepakat berdamai dengan keduanya, asalkan mereka tidak mengulangi perbuatannya lagi.

Suryadi, Ketua RW 05, Tapos, mengatakan pasangan selingkuh ini membuat surat perjanjian di hadapan warga, yang menyatakan tidak akan mengulangi perbuatan mereka. "Jika mengulangi lagi, maka mereka mengaku siap dibawa ke jalur hukum," katanya.

Kanit Reskrim Polsektro Cimanggis AKP Ersada Sitepu menyatakan karena berdamai dan tidak ada yang melaporkan kasus ini, maka pihaknya menyerahkan semuanya pada warga. Menurutnya hal ini sudah diselesaikan secara kekeluargaan oleh warga sendiri.

Cerita Dukun Ngentot Janda Muda

Berita Mesum - Ratusan warga Dusun Sukorejo, Desa Tumpak Rejo, Kecamatan Gedangan, Malang, Jawa Timur, membakar rumah milik seorang dukun bernama Samio (50), yang diduga telah mencabuli pasiennya.

Ada dua gubug milik Samio, yang dibakar massa pada Senin malam. Massa yang berjumlah sekira 200 orang juga merusak rumah Samio.

Kapolsek Gedangan AKP Edi Sunyata mengatakan, aksi ini dipicu adanya informasi bahwa Samio telah mencabuli salah satu pasien perempuannya. Massa yang marah karena mencari Samio tidak ada di tempat akhirnya membakar rumahnya. Istri dan dua anak Samio diamankan oleh ketua RT setempat.

"Samio sedang kami cari, korban juga sudah divisum," kata Edi Sunyata.

Menurut warga setempat, Samio telah lama berprofesi sebagai dukun, sekira 10 tahun. Beragam penyakit dia obati dengan mantra dan ritual. Diceritakan Warga, pada Jumat lalu, ada SL, seorang janda berusia 21 tahun pergi berobat ke tempat Samio ditemani saudaranya Suliono.

Untuk pengobatan, Suliyono diminta menunggu sementara SL diajak pergi ke Gubuk ke dua dengan ukuran lebih kecil, bersama satu pasien perempuan yang lain. "SL sampai di rumah pukul 03.00 WIB,“ kata Suliono di Mapolres Malang.

Suliono mengaku, SL menangis dan dipaksa bugil serta masturbasi oleh Samio. SL juga sempat dibentak-bentak sebelum disetubuhi saat berada di dalam gubuk ke dua. Keluarga kemudian melaporkan ke Mapolres Malang.

Pada Senin malam sekira pukul 21.00 WIB. Ratusan warga yang terbakar emosi mencari Samio dan merusak rumahnya yang dihuni istri dan dua anaknya. Warga lalu mencarinya lagi di tempat praktiknya namun Samio tidak ada. Mereka lantas membakar gubug tempat praktik Samio.

Akibat Film Porno, Perkosa Dua Anak Perempuan

Berita Mesum - Gara-gara sering menonton film porno, seorang pemuda nekat mencabuli dua bocah yang masih tetangganya. Kedua bocah itu berinisial MAP (13) dan AS (10).

Pelaku, T, warga Kecamatan Arosbaya, kini meringkuk di balik jeruji besi Mapolres Bangkalan. Polisi menangkap T di rumahnya hari ini.

Kasat Reskrim Polres Bangkalan, AKP Andi Purnomo, mengaku sudah sejak lama mengincar pelaku. Pelaku dikenal licin karena selalu lolos saat diringkus.

"Nah ketika kami tahu pelaku sedang pulang ke rumahnya, kami langsung melakukan penggerebekan. Hasilnya, pelaku bisa ditangkap," terang Andi.

Pelaku langsung digelandang ke Mapolres Bangkalan untuk menjalani pemeriksaan intensif. Di hadapan penyidik, pelaku nekat melakukan pencabulan karena tergiur film porno.

"Pelaku terobsesi film porno karena sering melihat di telefon genggam. Kemudian melakukan pencabulan pada korban," ucapnya.

Pelaku dijerat dengan Pasal 82 Undang-Undang (UU) Nomor 23 Tahun 2012 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman penjara maksimal 15 tahun.

"Sebagai barang bukti, kami mengamankan kaos dan celana korban. Kami masih terus mengembangkan kasus itu. Saat ini korbannya masih dua anak," pungkasnya.

Cerita Ustad Cabul Ngentot Tetangga Didepan Anaknya

Berita Mesum - Mengaku dapat mengatasi berbagai masalah ekonomi, Joko Mulyono, warga Desa Dawuhan, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Jawa Timur, terpaksa harus berurusan dengan polisi setelah mencabuli tetangganya sendiri.

Modus tersangka memperdaya korban dengan cara menjanjikan mampu mengatasi permasalahan ekonomi dengan ritual ritual tertentu. Salah satunya dengan meminum air rendaman celana dalam korban dan air mani tersangka.

Di hadapan petugas, Kamis (14/8/2014), tersangka yang dikenal sebagai pemuka agama di desanya ini mengaku mencabuli korban yang sudah memiliki empat anak di tempat tinggal korban. Ironisnya, perbuatan tersangka disaksikan anak-anak korban.

Kanit PPA Reskrim Polres Malang Iptu Sutiyo menyatakan tersangka ditangkap bersama
barang bukti pakaian korban. Akibat perbuatannya, tersangka terancam pasal 289 junto 281 KUHPidana tentang perbuatan cabul serta melanggar norma-norma kesopanan dengan ancaman hukuman 9 tahun penjara.